Selasa, 28 Juni 2011

askeb ca mamae pkm dukuh klopo jombang

ASUHAN KEBIDANAN

PADA Ny. “N” UMUR 48 TAHUN DENGAN CA MAMAE
DI POSKESDES MOROSUNGGINGAN
DUKUH KLOPO
JOMBANG

Oleh :

AGUSTIN PRASETYANINGATI
NIM. 090403002

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PEMKAB JOMBANG
2011
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Kebidanan pada Ny. “N” umur 48 tahun dengan CA Mamae di Poskesdes Morosunggingan Dukuh Klopo Jombang

Telah disahkan pada :
Hari :
Tanggal :

Mahasiswa


AGUSTIN PRASETYANINGATI
NIM. 090403002

Mengetahui,


Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik



ANIS SATUS., S.Kp.,Ns.,M.Kes IS.,Amd.Keb

Bidan Koordinator



EMELDA DEWI M. , Amd.Keb





KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa dengan segala rahmad dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Asuhan kebidanan dengan judul Asuhan kebidanan Pada Ny. “N” umur 48 tahun dengan CA Mamae Di Poskesdes Morosunggingan Dukuh Klopo Jombang.
Kami sadar bahwa dalam penyusunan asuhan kebidanan ini penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan serta dukungan dari berbagai pihak untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Lukman Taufik., SKM selaku kepala Puskesmas Dukuh Klopo
2. Emelda Dewi.,Amd.Keb selaku bidan koordinator KIA Puskesmas Dukuh Klopo
3. Ismariyatul Q.,Amd.Keb selaku Dosen Pembimbing Praktek Poskesdes Morosunggingan
4. Anis Satus S.Kp.Ns.,M.Kes selaku Dosen Pembimbing Akademik di STIKES PEMKAB Jombang
5. Semua pihak yang mendukung dalam penyusunan asuhan kebidanan
Penulis Asuhan Kebidanan ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu Penulis mengharapkan Saran dan Kritik dari pembaca demi kesempurnaan pembuatan asuhan kebidanan ini.
Akhirnya Penulis berharap semoga asuhan kebidanan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, Amin


Jombang, Juni 2011


Penulis





BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Kanker payudara menduduki tempat no 2 dari insiden semua tipe kanker di Indonesia menurut Prof.Soetomo Tjokronegoro. Umur penderita kanker payudara yang termuda adalah 20-29 tahun,yang tertua 80-89 tahun dan terbanyak umur 40-49 tahun yakni 130 kasus sedangkan angka pertama insidens tipe kanker di Indonesia yaitu Kanker serviks dan yang ke 3 adalah kanker nasofarinks.
Kemampuan pasien yang di diagnosis kanker payudara bertahan hidup masih mencapai 5 tahun sejak awal di diagnosis kanker payudara sekitar 93 %.
Jika kanker telah menyebar secara regional saat di diagnosis kemampuan bertahan hidup selama 5 tahun menjadi 72 % dan untuk seseorang dengan metastasis yang luas saat di diagnosis kemampuan bertahan hidupnya hanya 18 %.
.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu megembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita dengan Ca Mamae
1.2.2 Tujuan Khusus
Mampu melakukan asuhan kebidanan berdasarkan 7 langkah menurut Helen Varney yang meliputi :
1.2.2.1 Melakukan pengkajian data yaitu mengumpulkan data Subyektif dan Obyektif pada wanita dengan Ca Mamae
1.2.2.2 Mengidentifikasi masalah dan diagnosa kebidanan pada wanita dengan Ca Mamae.
1.2.2.3 Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnya pada wanita dengan Ca Mamae
1.2.2.4 Melakukan identifikasi kebutuhan segera pada wanita dengan Ca Mamae.
1.2.2.5 Melaksanakan rencana asuhan secara menyeluruh pada wanita dengan Ca Mamae.
1.2.2.6 Melaksanakan rencana secara efisien dan aman pada wanita dengan Ca Mamae
1.2.2.7 Mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada wanita dengan Ca Mamae.

1.3 CARA PENYUSUNAN ASUHAN KEBIDANAN
1.3.1 Rancangan Penulisan
Metode ini yang dipakai dalam penyusunan asuhan kebidanan ini adalah deskriptif dalam studi pustaka yaitu menggambarkan secara nyata tentang kondisi sakit ini dengan perbandingan antara teori dengan kasus nyata pada wanita dengan Ca Mamae.

1.3.2 Teknik pengumpulan data
1.3.2.1 Wawancara yaitu anamnesa langsung dengan pasien dan keluarga pasien.
1.3.2.2 Observasi yaitu melakukan pengamatan terhadap klien dan keluarga
1.3.2.3 Pemeriksaan fisik yaitu melakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan pemeriksaan penujang.
1.3.2.4 Studi kepustakaan yaitu data yang di peroleh dari buku dan makalah yaitu berhubungan dengan wanita dengan Ca Mamae.

1.4 TEMPAT DAN WAKTU PENYUSUNAN
Tempat
Di Poskesdes Morosunggingan Dukuh Klopo Jombang
Waktu
Tanggal 15 Juni 2011 jam 11.00 WIB

1.5 MANFAAT
1.4.1 Bagi Masyarakat
Untuk mengetahui sedini mungkin tentang gejala klinik dan penatalaksanaan atau pencegahan Ca Mamae

1.4.2 Bagi Institusi pendidikan
Sebagai tambahan referensi buku mahasiswa untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang Ca Mamae.



1.4.3 Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan tentang diare dan dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada wanita dengan Ca Mamae.

SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I : Pendahuluan
Terdiri dari latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan
BAB II : Tinjauan Pustaka
Terdiri dari :
2.1 Definisi
2.2 Etiologi
2.3 Faktor risiko
2.4 Manifestasi klinis
2.5 Pemeriksaan penunjang
2.6 Komplikasi
2.7 Gejala klinis
2.8 Diagnosis
2.9 Pencegahan
3.0 Stadium kanker
3.1 Penatalaksanaan
3.2 konsep dasar asuhan kebidanan
BAB III : Tinjauan Kasus
Meliputi pengkajian, analisa data, diagnose masalah, diagnose masalah potensial, kebutuhan tindakan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB IV : Pembahasan
BAB V : Penutup
Meliputi kesimpulan dan saran
BAB VI : Daftar Pustaka





BAB II
TINJAUAN TEORI


2.1 KONSEP DASAR CA MAMAE
2.1.1 Definisi
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)
Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas

2.1.2 Etiologi
Tanda dan gejala Fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan gejala). Tanda awal yang paling umum terjadi adalah adanya benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan 90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri, akan tetapi di temukan secra kebetulan, tidak dengan menggunakan pemeriksaan payudara sendiri (sarari), karena itu yayasan kanker menekankan pentingnya melakukan sarari.
Tanda dan gejal lanjut dari kanker payudara meliputi kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau rabas khususnya berdarah, dari putting. Kulit Peau d’ orange, kulit tebal dengan pori-pori yang menonjol sama dengan kulit jeruk, dan atau ulserasi pada payudara keduanya merupakan tanda lanjut dari penyakit.
Tanda dan gejala metastasis yang luas meliputi nyeri pada daerah bahu, pinggang, punggung bagian bawah, atau pelvis, batuk menetap, anoreksi atau berat badan yang turun, gangguan pencernaan, pusing, penglihatan yang kabur dan sakit kepala.


2.1.3 Faktor risiko
 Wanita usia ≥30 tahun
 Melahirkan anak pertama usia ≥35tahun
 Tidak kawin atau nulipara
 Menarche ≤12 tahun
 Menopause usia ≥55 tahun
 Pernah mengalami trauma atau infeksi dan operasi tumor jinak payudara
 Terapi hormonal lama
 Mempunyai kanker payudara kontralateral
 Pernah mengalami radiasi daerah dada
 Ada riwayat keluarga dengan kanker payudara

2.1.4 Manifestasi klinis
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan pada payudara,rasa sakit ,keluar cairan dari putting susu timbulnya kelainan kulit pembesaran kelenjar getah bening. Setiap kelainan pada payudara harus di pikirkan ganas sebelum di buktikan tidak.
Dalam anamnesis di tanyakan adanya factor risiko pada pasien dan pengaruh siklus haid terhadap keluhan dan perubahan ukuran tumor.

2.1.5 Pemeriksaan penunjang
1) Mammografi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker.
2) Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista.
3) CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
4) Sistologi biopsi aspirasi jarum halus
5) Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.
(Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66)



2.1.6 Komplikasi
Komplikasi dari kanker payudara adalah metastase ke tulang, jika hal itu terjadi di tulang belakang maka akan terjadi kompresi medula spinalis.

2.1.7 Gejala klinik
Gejala-gejala kanker payudara antara lain, terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, keluar cairan dari puting, ada perlengketan dan lekukan pada kulit dan terjadinya luka yang tidak sembuh dalam waktu yang lama, rasa tidak enak dan tegang, retraksi putting, pembengkakan lokal.
Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005)

2.1.8 Diagnosis
Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis yang dilakukan dengan :
1. Biopsi eksisi : mengangkat seluruh jaringan tumor dengan sedikit jaringan sehat disekitarnya bila tumor ≤5 cm
2. Biopsi insisi : mengangkat sebagian jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat dilakukan untuk tumor-tumor yang inoperable dan ≥5 cm

2.1.9 Pencegahan
1. Kesadaran SADARI dilakukan setiap bulan.
2. Jika menemukan gumpalan / benjolan pada payudara segera kedokter.
3. Cari tahu apakah ada sejarah kanker payudara pada keluarga. Menurut penelitian 10 % dari semua kasus kanker payudara adalah factor gen.
4. Perhatikan konsumsi alcohol. Dalam penelitian menyebutkan alcohol meningkatkan estrogen.
5. Perhatikan BB, obesitas meningkatkan risiko kanker payudara.
6. Olah raga teratur. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kurang berolah raga, semakin tinggi tingkat estrogen dalam tubuh.
7. Kurangi makanan berlemak. Gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat meningkatkan risiko penyakit.
8. Usia > 50 th lakukan srening payudara teratur. 80% Kanker payudara terjadi pada usia > 50 th
9. Rileks / hindari stress berat. Menurunkan tingkat stress akan menguntungkan untuk semua kesehatan secara menyeluruh termasuk risiko kanker payudara

2.1.10 Stadium kanker payudara
Stadium 1 : tumor terbatas pada payudara dengan ukuran ≤2 cm, tidak terfiksasi pada kulit atau otot pertoralis tanpa dugaan mestastasis axila
Stadium II : tumor dengan diameter ≤2 cm dengan mestastasis axila atau tumor dengan diameter 2-5 cm dengan/tanpa mestastasis axila
Stadium IIIa : tumor dengan diameter ≥5 cm tapi masih bebas dari jaringan sekitarnya dengan/tanpa mestastasis axila yang masih bebas satu sama lain atau tumor dengan mestastasis axila yang melekat
Stadium IIIb : tumor dengan metastasis infra atau supraklafikula atau tumor yang telah menginfiltrasi kulit atau dinding toraks
Stadium IV : tumor yang telah mengadakan mestastasis jauh

2.1.11 Penatalaksanaan
Pembedahan
1. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).
2. Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.
3. Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
1) Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.
2) Mastektomi radikal yang diperluas
Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

Non pembedahan
1. Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
2. Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
3. Terapi hormon dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.

KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN PADA CA MAMAE
I. PENGKAJIAN
Tanggal : Jam :
A. DATA SUBYEKTIF
1. Biodata (umur)
Paling banyak terjadi pada wanita berumur 40-49 tahun.
2. Alasan Kunjungan
Mengeluh adanya benjolan abnormal di payudara, keluar cairan dari putting susu, timbulnya kelainan kulit yaitu kulit berwarna merah dan payudaramengeras,bengkak dan nyeri.

3. Riwayat Kebidanan
a. Riwayat haid
Menarche : biasanya pasien dengan ca mamae adalah ≤12 tahun
Siklus : tidak berpengaruh
Lamanya : tidak berpengaruh
Banyaknya : tidak berpengaruh
Dysmenorrhea : tidak berpengaruh
Fluoralbus : tidak berpengaruh

b. Riwayat kehamilan
Pada wanita nulipara

c. Riwayat Persalinan
Tidak mempengaruhi terjadinya ca mamae
d. Riwayat KB
Biasanya memakai KB hormonal yang terlalu lama
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama .
apakah pernah mengalami infeksi,trauma atau operasi jinak payudara
b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengeluh adanya benjolan pada payudara,nyeri dan timbul kelainan kulit payudara
c. Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat riwayat keluarga dengan kanker payudara
5. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Nafsu makan tidak terpengaruh
b. Pola Istirahat
Terganggu karena adanya nyeri dan benjolan abnormal pada payudara
c. Pola aktivitas
Lebih banyak istirahat karena membatasi gerakan saat nyeri datang
d. Pola eliminasi
BAB dan BAK tidak terpengaruh
e. Pola personal hygiene
Personal hygiene cukup
6. Keadaan psikososial
a. Keadaan psikologi : pasien khawatir dengan kondisinya
b. Keadaan sosial : membutuhkan bantuan orang lain saat melakukan pekerjaan tertentu.
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : lemah
b. Kesadaran : composmentis
c. TTV : TD : meningkat S : 365 – 375 0C
N: meningkat RR : meningkat
2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Mata : conjungtiva pucat, sclera putih, kelopak mata tidak cowong.
Axila : terdapat pembesaran kelenjar limfe
Payudara : adanya benjolan abnormal dan kelainan kulit yaitu kemerahan
b. Auskultasi
Dada : tidak terdengar ronchi dan wheezing
c. Perkusi
Reflek patella +/+
3. Pemeriksaan Penunjang
- USG
- Mammografi
- Aspirasi jarum halus

II. INTERPRESTASI DATA DASAR DAN DIAGNOSA MASALAH
Dx : Ny “…” umur ... tahun dengan Ca Mamae
Ds : Ibu mengeluh adanya benjolan pada payudara, kemerahan dan nyeri
DO : K/U : lemah
Kesadaran : Composmentris
TTV : TD : meningkat S : 365 – 375 0C atau 375 0C
N : meningkat RR : meningkat
Antara payudara kanan dan kiri berbeda yaitu pada payudara kanan terlihat adanya benjolan abnormal dan kemerahan.

Pemeriksaan Penunjang
- USG
- Mammografi
- Aspirasi jarum halus


III. IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL
- Efek kemoterapi
- Metastase

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
HE tentang kemoterapi dan metastase

V. INTERVENSI
Dx : Ny “…” umur …. tahun dengan Ca Mamae
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x30 menit diharapkan pasien dalam keadaan baik.
Kriteria Hasil : K/U : baik
Kesadaran : Composmentris
TTV : TD : 110/70-130/90 mmHg S : 365 – 375 0C
N : 60-100x/menit RR : 18-24x/menit
Pemeriksaan Penunjang
- USG
- Mammografi
- Aspirasi jarum halus

Intervensi :
1. Melakukan pendekatan terapiutik pada pasien
Rasional : agar terjalin kerja sama yang baik antara nakes dan pasien dan dapat kooperatif dalam memberikan asuhan kebidanan
2. Ukur tanda-tanda vital
Rasional : untuk mengetahui perkembangan kesehatan pasien
3. Anjurkan ibu untuk melakukan kemoterapi
Rasional : untuk menghambat pertumbuhan sel kanker
4. Anjurkan ibu untuk kontrol rutin
Rasional : untuk memantau perkembangan kesehatan pasien




Masalah : gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x30 menit diharapkan nyeri berkurang
Kriteria Hasil : Nyeri berkurang atau hilang
Ekspresi wajah tenang

Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
3. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
Rasional : untuk mempercepat proses penyebuhan

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : Jam :
Melakukan tindakan sesuai dengan intervensi, implementasi yang komprehensif merupakan perwujudan dari perencanaan yang telah disusun pada tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan dapat diselesaikan dengan baik bila diterapkan berdasarkan diagnosa masalah.

VII. EVALUASI
Tanggal : Jam :

Merupakan seperangkat tindakan yang saling berhubungan untuk mengukur pelaksanaan serta didasarkan atas tujuan dan kriteria. Guna evaluasi ini adalah untuk menyusun langkah baru dalam asuhan kebidanan, menunjang tanggung jawab dan tanggung gugat dalam asuhan kebidanan :

S : Data yang didapat dari pernyataaan klien / keluarga secara langsung
O : Data yang didapat dari hasil pemeriksaan dan observasi
A : Pernyataan gangguan yang terjadi atas dasar subyektif dan obyektif
P : Perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah yang terjadi.



























BAB III
TINJAUAN KASUS
Ny. “N” UMUR 48 TAHUN DENGAN CA MAMAE


I. PENGKAJIAN
Tanggal : 15 Juni 2011 Jam : 11.00 WIB
A. DATA SUBYEKTIF
1.1 IDENTITAS KLIEN
Nama Istri : Ny. “N” Nama Suami : Tn. “K”
Umur : 48 th Umur : 50 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa Suku/bangsa : Jawa
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : parkir
Penghasilan : - Penghasilan : ± Rp 10.000/hari
Alamat : Morosunggingan Alamat : Morosunggingan

1.2 STATUS PERKAWINAN
Kawin keberapa : 1 Kawin keberapa : 1
Lama kawin : 25 Th Lama kawin : 25 Th
Umur kawin : 23 Th Umur kawin : 25 Th

1.3 KELUHAN UTAMA
Ibu mengatakan ada benjolan di payudara sebelah kanan, nyeri dan kemerahan
± 13 bulan ini dan sudah pernah melakukan kemoterapi.

1.4 RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Ibu mengatakan sejak mei 2010 ibu melihat ada benjolan pada payudara sebelah kanan, keras dan nyeri jika tersentuh. Kemudian ibu memeriksakan ke puskesmas tentang penyakitnya lalu ibu mendapat surat rujukan untuk periksa ke poli RSUD SWADANA Jombang. Setelah di RSUD, ibu di periksa dan di diagnosa ca mamae lalu ibu di anjurkan untuk melakukan kemoterapi di RSUD DR SOETOMO Surabaya hingga sekarang ibu sudah melakukan kemoterapi 8x.

1.5 RIWAYAT KEBIDANAN
a. Riwayat Haid
Menarche : 10 tahun
Siklus : tidak teratur
Lamanya : 6 hari
banyaknya : 2x ganti softek
Warna : merah
Bau : anyir
Fluor albus : -
HPHT : -
Dysmenorrhea : -
b. Riwayat kehamilan, Persalinan dan nifas yang lalu
Kawin ke Kehamilan Persalinan Anak Nifas Penyulit
ke UK Jenis Penolong Tempat Penyulit BBL JK Hidup
1 1 9 bln N Bidan BPS - 2700 Pr 24 th -
1 2 9 bln N Bidan BPS - 2800 Pr 17 th -
1 3 9 bln N Bidan BPS - 3000 Lk 9 th -

1.6 RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat kesehatan yang lalu
Pasien sebelumnya sudah menderita kanker payudara selama ±13 bulan, pasien sudah pernah melakukan kemoterapi 8x di RSUD Dr Soetomo.
b. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga ada yang menderita kanker payudara yaitu saudara perempuan dari ibu pasien.

1.7 RIWAYAT KB
Ibu mengatakan mengikuti KB setelah melahirkan anak ke 1 pasien menggunakan KB suntik 3 bulanan selama 2 tahun kemudian mengganti KB Pil plano tab selama 3 tahun ,setelah melahirkan anak ke 2 pasien kembali menggunakan KB suntik 3 bulanan selama 5 tahun, setelah melahirkan anak ke 3 pasien menggunakan KB suntik selama 5 tahun kemudian mengganti KB Pil. Setelah ada benjolan,pasien disarankan oleh bidan untuk tidak menggunakan KB.

1.8 KEADAAN PSIKOSOSIAL
Ibu merasa cemas dengan keadaannya saat ini karena ibu mengeluh sering nyeri jika payudaranya tersentuh.

1.9 POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
a. Pola Nutrisi
Sebelum : makan ; 3x/hari (nasi, lauk pauk, sayur, buah)
minum : 7-8 gelas/hari (air putih, teh)
Selama : makan ; 3x/hari (nasi, lauk pauk, sayur, buah)
minum : 7-8 gelas/hari (air putih, teh)
b. Pola aktivitas
Sebelum : Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga
Selama : Ibu hanya berbaring, miring ke kiri
c. Pola Istirahat
Sebelum : siang : ± 1-2 jam/hari
malam : ± 6-7 jam/hari
Selama : Ibu sulit tidur karena nyeri yang dirasakan
d. Pola Eliminasi
Sebelum : BAB : 1x/hari (lunak, warna kuning, bau khas)
BAK ; 6x/hari (warna kuning, jernih, tidak nyeri)
Selama : BAB : 1x/hari (lunak, warna kuning, bau khas)
BAK ; 6x/hari (warna kuning, jernih, tidak nyeri)

B. DATA OBYEKTIF
2.1 Pemeriksaan Umum
a. Kesadaran : Composmentis
b. Keadaan umum : cukup
c. BB/TB : 54 kg/150 cm
d. TTV : T : 120/80 mmHg s : 37oC
N : 84 x/menit RR : 24 x/menit

2.2 Pemeriksaan Fisik
Kepala : Rambut hitam, bersih, tidak ada benjolan, tidak adaluka
Muka : tidak pucat, tidak oedem,
Mata : simetris, sclera tidak kuning, conjungtiva merah muda
Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak ada pernaafasan hidung
Mulut : simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada gigi palsu
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid maupun bendungan vena jugularis
Dada : antara mamae kanan dan kiri tidak sama yaitu mamae kanan asimetris, terdapat bercak putih-putih pada payudara atas dan kemerahan. Pada mamae kiri putting susu menonjol, an bersih serta tidak ada benjolan abnormal.
Perut : simetris tidak ada pembesaran perut
Ekstremitas : tidak oedem , tidak ada kelainan gerak

2.3 Pemeriksaan penunjang
USG :

II. INTERPRESTASI DATA DASAR
Dx : Ny ”N” umur 48 tahun dengan Ca Mamae
Ds : Ibu mengeluh adanya benjolan pada payudara, kemerahan dan nyeri
DO : K/U : lemah
Kesadaran : Composmentris
TTV : TD : 120/80 mmHg S : 365 0C
N : 80x/mnt RR : 20x/mnt
Antara payudara kanan dan kiri berbeda yaitu pada payudara kanan terlihat adanya benjolan abnormal dan kemerahan.

Pemeriksaan Penunjang
- USG

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
- Efek kemoterapi
- Metastase

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
- HE tentang kemoterapi dan metastase

V. INTERVENSI
Dx : Ny”N” umur 48 tahun dengan Ca Mamae
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x30 menit diharapkan pasien dalam keadaan baik.
Kriteria Hasil : K/U : baik
Kesadaran : Composmentris
TTV : TD : 110/70-130/90 mmHg S : 365 – 375 0C
N : 60-100x/menit RR : 18-24x/menit
Pemeriksaan Penunjang
- USG
- Mammografi
- Aspirasi jarum halus

Intervensi :
1. Melakukan pendekatan terapiutik pada pasien
Rasional : agar terjalin kerja sama yang baik antara nakes dan pasien dan dapat kooperatif dalam memberikan asuhan kebidanan
2. Ukur tanda-tanda vital
Rasional : untuk mengetahui perkembangan kesehatan pasien
3. Anjurkan ibu untuk melakukan kemoterapi
Rasional : untuk menghambat pertumbuhan sel kanker
4. Anjurkan ibu untuk kontrol rutin
Rasional : untuk memantau perkembangan kesehatan pasien




Masalah : gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x30 menit diharapkan nyeri berkurang
Kriteria Hasil : Nyeri berkurang atau hilang
Ekspresi wajah tenang

Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
3. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
Rasional : untuk mempercepat proses penyembuhan

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : 15 Juni 2011 Jam : 11.30 WIB
Dx : Ny. “N” umur 48 tahun dengan Ca Mamae

Intervensi
1. Melakukan pendekatan terapiutik pada pasien dengan senyum salam sapa dan anamnesa
2. Mengukur tanda-tanda vital :
TD : 120/80 mmhg S : 36,4 ºC N : 84x/mnt
RR : 24x/mnt
3. Menganjurkan ibu untuk melakukan kemoterapi tgl 5 Juli 2011
4. Menganjurkan ibu untuk kontrol rutin


Masalah : gangguan rasa nyaman nyeri
Intervensi :
1. Mengkaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Ibu nyeri pada payudara bagian kanan, skala nyeri : 3-4 penyebaran ca mamae adalah diatas putting memutar
2. Memberi posisi yang menyenangkan saat istirahat yaitu menghindari tidur miring ke kanan atau tidur tidak miring
3. Menganjurkan teknik relaksasi napas dalam yaitu dengan bernapas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut
4. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi yaitu pemberian analgetik : asam mefenamat 3 x 500 mg

VII. EVALUASI
Tanggal: 15 Juni 2011 Jam: 12.00 WIB
S : Px mengatakan lega atas penjelasan nakes dan ekspresi wajah agak tenang
O :
T : 120/80 mmHg N : 80 x/mnt S : 36,5ºC
RR : 24x/mnt
A : Ny. “N” umur 58 tahun dengan Ca Mamae
P : 1.Menganjurkan px untuk istirahat yang cukup
2.Memantau observasi TTV
3.Melanjutkan intervensi : terapi obat : asam mefenamat 3 x 500 mg
4. menganjurkan ibu untuk melakukan kemoterapi tgl 5 Juli 2011
BAB IV
PEMBAHASAN

Pembahasan merupakan analisa mengenai lingkungan yang terjadi antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny “N” usia 48 tahun dengan Ca Mamae , diperoleh kesenjangan antara lain :

4.1 Pengkajian
Pada tahap pengkajian tidak terdapat kesenjangan teori dengan tinjauan kasus,keluarga klien dan klien sangat kooperatif dalam menjawab pertanyaan nakes.

4.2 Identifikasi diagnosa dan masalah
Pada diagnosa dan masalah tidak diperoleh kesenjangan antara teori dengan tinjauan kasus.

4.3 Antisipasi masalah potensial
Dari masalah potensial ditemukan masalah yaitu nyeri.Dalam hal ini penulis menyusun dan melaksanakan intervensi sesuai dengan konsep dasar.

4.4 Identifikasi kebutuhan segera
Intervensi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan segera klien mengacu pada tinjauan pustaka sehingga dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus.

4.5 Intervensi
Pada intervensi tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.

4.6 Implementasi
Dalam pelaksanaannya sesuai dengan intervensi yang telah ditetapkan. Dalam hal ini penulis menyusun implementasi sesuai dengan waktu dan sesuai dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan pada pasien.



4.7 Evaluasi
Pada konsep dasar asuhan kebidanan evaluasi merupakan penulisan apakah rencana berhasil atau tidak sesuai dengan pelayanan kesehatan yang telah ditentukan. Pada tinjauan kasus ini tujuan masalah belum teratasi sehingga intervensi perlu dilanjutkan dirumah.

BAB V
P E N U T U P


1.1 KESIMPULAN
Setelah melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “N” umur 48 tahun dengan Ca Mamae menyimpulkan sebagai berikut : dalam pengkajian data obyektif keadaan umum pasien baik, kesadaran composmentis, T : 120/80 mmHg N : 80x/menit, S : 36,5 0C
RR : 24x/menit. Identifikasi diagnosa masalah dan kebutuhan segera adalah HE tentang efek kemoterapi yaitu adanya hiperpigmentasi pada kulit dan rambut menjadi rontok, sedangkan pada implementasi dilakukan sesuai dengan rencana dari semua hal itu pada tanggal 15 Juni 2011 hasil evaluasi catatan perkembangan kondisi pasien sudah membaik, nyeri dan cemas berkurang.

1.2 SARAN
1.2.1 Bagi Lahan Praktek
Dalam melakukan pengkajian tindakan dengan cepat dan cermat sehingga dapat segera diambil keputusan dalam memberikan asuhan kebidanan sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang lebih cepat.

1.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Untuk meningkatkan pemahaman penulis dan kami berharap semoga dalam penyediaan sumber pustaka dapat lebih lengkap sehingga mahasiswa tidak merasa kesulitan dalam mencari kepustakaan.

1.2.3 Bagi penulis
Penulis mendapat tambahan wawancara tentang diare dan dapat melakukan asuhan kebidanan pada wanita dengan Ca Mamae

DAFTAR PUSTAKA

Dongoes,Marylin.1989.Nursing Care Plans.USA Philadelphia

Gale,Daniele.1996.Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.Jakarta.EGC

Junadi,Purnawan.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Media Aesculapius.

Mansjoer, A. 2006. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Jakarta. Media Aesculapius.

Syaifuddin Abd.Bari. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBDSP

Winjosatro,Hanifa. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta. YBDSP
.

Jumat, 24 Juni 2011

asuhan kebidanan pada bayi NCB umur o hari di puskesmas ploso

ASUHAN KEBIDANAN
PADA BY NY. “W” UMUR 0 HARI DENGAN NCB
DI DI RUANG KIA PUSKESMAS TEMBELANG
KAB. JOMBANG
PKK II ROTASI 1 (16-28 MEI 2011)
















Oleh :
AGUSTIN PRASETYANINGATI
NIM : 090403002





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PEMKAB JOMBANG
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
2011
KATA PENGANTAR


Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas asuhan kebidanan pada bayi Ny. “W” NCB umur 0 hari di ruang KIA Puskesmas Tembelang sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan praktek klinik kebidanan II.
Dalam penyusunan asuhan kebidanan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kepala Puskesmas,
2. Bidan Koordinator, Guritna A.G, SST
3. Pembimbing klinik, Nuning, Amd. Keb
4. Pembimbing akademik, Sestu Retno D.A.,S.Kep,M.Kes
5. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penulisan asuhan kebidanan ini baik secara langsung maupun tidak langsung
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu apabila ada kritik dan saran dari pembaca, kami dengan senang hati akan menerima segala macam masukan dan saran dari pembaca kami ucapkan terima kasih.

Jombang, 24 Mei 2011

Penulis











LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Kebidanan Pada bayi Ny. “W” NCB umur 0 hari di ruang KIA Puskesmas Tembelang

Telah disahkan pada :
Hari :
Tanggal :
Tempat : Puskesmas Tembelang



Mahasiswa



AGUSTIN PRASETYANINGATI





MENGETAHUI

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING RUANGAN


SESTU RETNO D.A.,S.Kp.,M.Kes GURITNA AWAN G.,SST





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Departemen Kesehatan RI, 1992).
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum menangani Bayi Baru Lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi.
Pada saat ini angka kematian ibu dan kematian perinatal di Indonesia masih sangat tinggi menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia (1997) angka kematian ibu adalah 334 per 100.000 kelahiran hidup. (Sarwono, 2000).
Kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu pada bulan pertama kehidupan, kurang baiknya penanganan bayi baru lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian (Prawiroharjo, 2002). Keadaan bayi sangat tergantung pada pertumbuhan janin di dalam uterus, kualitas pengawasan antenatal, penyakit ibu waktu hamil, penanganan persalinan dan perawatan sesudah lahir. Penanggulangan bayi tergantung pada keadaannya apakah bayi normal atau tidak.
Pada umumnya kelahiran bayi normal cukup bulan, ditolong bidan yang bertanggung jawab terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Oleh karena itu, kelainan pada ibu dan bayi dapat terjadi beberapa saat sesudah terselesainya persalinan yang dianggap normal, maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada bayi dan ibu (Prawirohardjo, 2002).
Apabila perlu memberikan pertolongan pertama, seperti menghentikan perdarahan, membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen dan melakukan pernafasan buatan sampai ibu atau bayi tersebut dilihat oleh seorang dokter atau dibawa ke rumah sakit yang mempunyai perlengkapan serta perawatan yang baik sehingga pengawasan dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya.



1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengerti memahami dan melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir bayi Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB di ruang KIA Puskesmas Tembelang.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada bayi Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB, diharapkan mahasiswa mampu :
a. Melakukan pengkajian pada bayi baru lahir Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
b. Mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan pada bayi baru lahir Ny. “W” NCB umur 0 hari Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada bayi baru lahir Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
c. Mengidentifikasi kebutuhan segera pada bayi baru lahir Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
d. Mengembangkan rencana tindakan atau intervensi pada bayi baru lahir Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
e. Melaksanakan tindakan sesuai rencana atau implementasi pada bayi baru lahir Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
f. Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi baru Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Ibu dan Bayi
Adapun manfaat dari penyusunan asuhan kebidanan ini, antara lain :
• Agar ibu dan keluarga mengetahui cara merawat bayi baru lahir dengan baik dan dapat menjaga kehangatan tubuh bayi.
• Agar bayi tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa ada hambatan yang mengganggu.
• Bayi bisa merasa nyaman di luar lingkungan uterus.
1.3.2 Bagi Penulis
Menambah pengetahuan dan pengalaman serta merupakan kesempatan untuk mempelajari lebih jauh tentang permasalahan yang ada pada kasus bayi baru lahir.
1.3.3 Bagi Institusi
Memberikan tambahan sumber kepustakaan dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada bayi Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB fisiologis
1.3.4 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara merawat bayi baru lahir.

1.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menggunakan tehnik sebagai berikut :
1.4.1 Wawancara
Adalah mengumpulkan data dengan tanya jawab secara langsung dengan pasien, keluarga maupun dari tim kesehatan yang terkait sehingga mendapatkan data tentang permasalahan yang dialami oleh pasien.
1.4.2 Observasi
Yaitu mengumpulkan data dengan tanya jawab secara langsung terhadap kondisi bayi Ny. “W” umur 0 hari dengan NCB
Studi Kepustakaan Adalah mengumpulkan data yang diperoleh dari buku-buku mengenai bayi baru lahir atau neonatus di perpustakaan.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Bayi Baru Lahir
2.1.1 Pengertian Bayi Baru Lahir
• Neonatus Cukup Bulan (NCB) adalah neonatus yang lahir pada umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan BB 2500 gram – 4000 gram. (Prawirohardjo, 1999).
• Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan normal 37 minggu – 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram – 4000 gram (Depkes RI, 1992).
• Asuhan segera BBL adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama dan setelah kelahiran. (Syaifuddin, Abdul Bari, 2002 : N. 30)

2.1.2 Ciri-ciri Neonatal Aterm
• BB 2500 gram – 4000 gram.
• Panjang badan 48 – 54 cm.
• Lingkar dada 32 – 36 cm.
• Lingkar kepala 33 – 35 cm.
• Denyut jantung dalam menit-menit pertama x/menit menurun 140 x/menit.
• Kulit kemerahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan diliputi verniks caseosa.
• Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala telah sempurna.
• Kuku agak panjang dan lemas.

2.1.3 Periode BBL
a. Periode I : Reaktifitas I (30 menit setelah 1 hari)
Bayi terjaga dengan mata terbuka, memberikan respon terhadap stimulus dan mempunyai kemampuan menghisap yang sangat tinggi.
b. Periode II : Reaktifitas II (2 – 5 jam setelah kelahiran)
Bayi bangun dari tidur nyenyak, denyut jantung dan pernafasan meningkat, pengeluaran mekonium, urine dan menghisap.
c. Periode III : Stabilisasi (12 – 24 jam)
Kulit kemerahan dan hangat
2.1.4 Penanganan Bayi Baru Lahir
a. Membersihkan jalan nafas
Setelah kelahiran bayi stabil secara tepat menilai pernafasannya, letakkan bayi dengan handuk di atas perut ibu dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah atau lendir sampai wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang.
b. Penilaian awal/apgar skore
Keadaan umum bayi dinilai 1 menit setelah lahir dengan penggunaan nilai apgar, ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksi atau tidak yang dinilai adalah frekuensi jantung, usaha nafas, tonus otot, warna kulit dan reaksi terhadap rangsangan. Dari hasil penilaian itu dapat diketahui bayi itu normal atau tidak.
1. Bayi normal : nilai apgar 7 – 10
2. Bayi ringan : nilai apgar 4 – 6
3. Bayi berat : nilai apgar 0 – 3
Tabel Nilai Apgar
Skor 0 1 2 Angka
A : Appearance Color (warna kulit) Pucat Badan merah ekstremitas biru Seluruh tubuh kemerah-merahan
P : Pulse (heart rate) frekuensi jantung Tidak ada Di bawah 100 Diatas 100
G : Grimace (reaksi terhadap rangsangan) Lumpuh Ekstremitas dalam, fleksi sedikit Gerakan aktif
R : Respiration (usaha nafas) Tidak ada Lemah, tidak teratur Menangis kuat
Segera setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu. Bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakkan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu) tetapi harus dipastikan bahwa area tersebut bersih dan kering.

Segera pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan :
• Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan.
• Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas.
c. Mempertahankan suhu tubuh neonatus/pencegahan kehilangan panas
Mekanisme pengaturan temperature tubuh bayi baru lahir, belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermia, sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian.
Hipertemia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berada di dalam ruangan yang relatif hangat.
Salah satu cara untuk mempertahankan suhu tubuh BBL :
• Pastikan bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu.
• Ganti handuk atau kain yang basah dan bungkus bayi dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.

2.1.5 Mekanisme Kehilangan Panas (JNPK–KR/POGI, 2007 : 96)
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara :
a. Evaporasi
Adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Kehilangan panas juga terjadi pada bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti.
b. Konduksi
Adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut.

c. Konveksi
Adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
d. Radiasi
Adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi.

2.1.6 Mencegah Kehilangan Panas
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagai berikut :
a. Keringkan bayi dengan seksama.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.
c. Tutupi bagian kelapa bayi.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI.
e. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
f. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir (+ 6 jam setelah lahir).

2.1.7 Macam-macam Refleks (JNPK–KR/POGI, 2007 : 100)
Pada bayi terdapat jenis refleks, yaitu :
a. Tonic Neck Refleks
Bayi melakukan perubahan posisi bila kepala diputar ke satu sisi.
b. Moro Refleks
Bila posisi diubah dengan tiba-tiba, maka lengan ekstensi jari-jari mengembang, kepala terlempar ke belakang dan tungkai sedikit ekstensi tulang belakang dan ekstremitas bawah ekstensi.
c. Babinsky Refleks
Goreskan telapak kaki sepanjang tepi terluar, dimulai dari tumit maka jari kaki mengembang dan jari kaki dorsofleksi
d. Rooting Refleks
Bayi akan menolah ke arah dimana terjadi sentuhan pada pipinya. Bayi akan membuka mulutnya apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.
e. Graps Refleks
Jari bayi akan melekuk di sekeliling yang menggenggamnya seketika bila jari diletakkan di telapak tangan bayi.
f. Swallowing Refleks (Refleks Menelan)
Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan menghisap bila cairan ditaruh di belakang lidah. Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot-otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi.
g. Suckling Refleks (Refleks Menghisap)
Rangsangan putting susu pada langit-langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyebabkan areola dan putting susu ibu tertekan gusi, lidah, langit-langit bayi sehingga sinus laktiferus di bawah areola dan ASI terpancar keluar.

2.1.8 Merawat Tali Pusat (JNPK–KR/POGI, 2007 : 99)
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan pengikatan putting tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat (bila tersedia).
a. Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) ke dalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya.
b. Bilas tangan dengan air DTT.
c. Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk bersih dan kering.
d. Ikat puntung tali pusat dengan jarak + 1 cm dinding perut bayi (pusat).
e. Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling puntung tali pusat dengan simpul mati.
f. Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan letakkan di dalam klorin 0,5%.
g. Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering.
Nasehat untuk merawat tali pusat. Berikan nasehat ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
• Lipat popok di bawah puntung tali pusat.
• Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan hati-hati dengan air DTT dan segera keringkan menggunakan kain bersih.
• Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat menjadi merah, bernanah atau berbau atau berdarah.
• Segera rujuk bayi ke fasilitas yang dilengkapi perawatan untuk BBL jika terjadi.

2.1.9 Memulai Pemberian ASI
Prinsip pemberian ASI adalah sedini mungkin dan eksklusif. Bayi baru lahir harus mendapatkan ASI dalam waktu satu jam setelah lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. Beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta lahir dan memastikan ibu dalam kondisi baik. Keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.
Memulai pemberian ASI secara dini akan :
a. Merangsang produksi susu.
b. Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

2.1.10 Pemantauan Bayi Baru Lahir
Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
a. Dua jam pertama sesudah lahir, meliputi :
• Kemampuan menghisap kuat atau lemah.
• Bayi tampak aktif atau lunglai.
• Bayi kemerahan atau biru.
b. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya.
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut :
• Bayi kecil untuk masa kehamilan / bayi kurang bulan.
• Gangguan pernafasan.
• Hipotermia.
• Infeksi.
• Cacat bawaan dan trauma lahir.
Yang perlu dipantau pada BBL meliputi suhu badan dan lingkungan, tanda-tanda vital, berat badan, mandi dan perawatan kulit, pakaian, perawatan tali pusat.

2.1.11 Profilaksis Bayi Baru Lahir
a. Pencegahan infeksi pada mata
Tetes mata untuk mencegah infeksi mata dapat diberikan setelah ibu atau keluarga memomong bayi dan diberi ASI. Pencegahan infeksi tersebut menggunakan salep mata Tetrasiklin 1%. Salep antibiotika tersebut harus diberikan dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran.
b. Profilaksis perdarahan BBL
Semua BBL harus diberikan Vitamin K1 injeksi 1 mg IM di paha kiri sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan BBL akibat difisiensi Vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL.
c. Pemberian imunisasi Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan ibu – bayi. Terdapat 2 jadwal imunisasi Hepatitis B. Jadwal pertama : sebanyak 3 kali, yaitu usia 0 (segera setelah lahir dengan uniject), usia 1 dan 6 bulan. Jadwal kedua : 4 kali, yaitu pada usia 0 dan DPT + Hepatitis B. pada 2, 3 dan 4 bulan usia bayi.





2.3. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan
2.3.1. Definisi
Asuhan Kebidanan adalah aktifitas atau intervensi yang dilakukan oleh bidan kepada klien yang membutuhkan atau mempunyai permaalah dalam bidang pengetahuan.
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien, bidan menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah dengan difokuskan pada suatu proses sistematis dan analisis dalam memberikan asuhan kebidanan kita menggunakan 7 langkah Varney :
I. Pengkajian
II. Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan Neonatus
III. Identifikasi Masalah Potensial
IV. Identifikasi Kebutuhan Segera
V. Intervensi
VI. Implementasi
VII. Evaluasi

2.3.2. Manajemen Kebidanan Varney
I. Pengkajian
A. Data Subyektif
1. Biodata (Berisi biodata Neonatus & Orang tua)
 Identitas Neonatus, antara lain :
a. Nama bayi : Untuk mengetahui identitas bayi dan agar tidak terjadi suatu kesalahan besar.
b. Jenis kelamin : Untuk mengetahui ciri-ciri secara fisik bayi sesuai JK.
c. Tanggal lahir / umur bayi
Untuk mengetahui sebera[a lama kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan.
d. Jenis persalinan
e. BBL : Untuk mengetahui bagaimana kecukupan gizi apakah sudah sesuai perkembangan dan pertumbuhan dibanding umur bayi.
f. Status : Untuk mengetahui kedudukan anak dalam keluarga.
g. Anak ke : Untuk mengetahui anak ke- agar mudah mengkaji bayi dalam kehamilan ibu termasuk resiko tinggi atau tidak.
h. Tanggal MRS
 Identitas Orang Tua
a. Nama ayah dan ibu
Untuk mengetahui identitas orang tua bayi agar membantu pengkajian.
b. Umur : Untuk mengetahui apakah ibu mempunyai resiko tinggi / tidak
c. Agama : Untuk mengetahui kepercayaan orang tua bayi terhadap agama yang dianutnya sehingga memudahkan dalam melakukan asuhan dan pendekatan.
d. Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua bayi sebagai dasar memberikan KIE (Konseling Informasi Education)
e. Pekerjaan : Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kesehatan bayi dan aktifitasnya.
f. Alamat : Untuk mengetahui suku daerah ibu/suami dan obat untuk membangun kepercayaan serta komunikasi.
2. Keluhan Utama
Berisikan apa yang dirasakan oleh pasien atau keadaan neonatus pada saat ini kronologis apa, bisa neonatus sakit cacat, keadaan saat itu.
3. Riwayat penyakit sekarang
Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang lain, ini kronologis apa yang terjadi pertama kali.
4. Riwayat penyakit keluarga
Ditanyakan untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang lain. Apakah keluarga pernah menderita penyakit menular (TBC, Hepatitis, HIV/AIDS), penyakit menurun (asma, kencing manis, darah tinggi), atau penyakit menahun (jantung).
5. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. Riwayat Kehamilan (Prenatal)
 Untuk mengetahui kebiasaan ibu selama hamil yakni apakah ibu rajin memeriksakan kehamilannya sehingga setiap komplikasi bisa tertangani sejak dini dan imunisasi TT ibu apakah sudah lengkap.
 Untuk mengetahui penyakit yang diderita selama hamil
 Makanan apa saja yang dikonsumsi sehari-hari selama masa kehamilan
 Selain itu untuk mengetahui apakah selama hamil ibu minum jamu atau obat-obatan. Adakah pantangan dalam kegiatan sehari-hari.
b. Riwayat Persalinan / Natal
Untuk mengetahui bagaimana proses persalinan yang meliputi cara persalinan (spontan belakang kepala / spontan letak sungsang, spontan dengan alat / sectio caesarea atas indikasi). Ditolong oleh siapa, tempat persalinan, obat yang dikonsumsi selama persalinan, misal : bagaimana air ketubannya, jam berapa ketuban pecah, apakah kala II memanjang, dll. Kemudian adakah komplikasi baik pada ibu maupun bayi.
6. Riwayat Neonatal
Untuk mengetahui bagaimana keadaan bayi saat ahir (aterm / prematur/ matur / langsung menangis/asfiksia/ikterus/hipotermia)
Yang meliputi tanggal kelahiran, adakah cacat bawaan kongenital, jenis kelamin, berapa BBL dan PB, lingkar kepala serta (SOB, FO, MO), yang diberikan ASI / PASI.
7. Riwayat Imunisasi
Untuk mengetahui imunisasi dasar yang telah diperoleh bayi kejadian.
Ikutan pasca imunisasi tambahan yang didapatkan oleh bayi.
Jenis Imunisasi Tanggal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
I II III IV
Hepatitis B
BCG
Polio
DPT
Campak
Hb Combro
Booster

8. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola nutrisi
Pada bayi baru normal kebutuhan nutrisi yaitu susu formula dan ASI yang disusui.
b. Pola eliminasi
- BAB : frekuensi, konsistensi, jumlah, warna, zat yang menyertai, kesulitan dan upaya untuk mengatasi. Pada bayi baru lahir normal umur 0 hari BAB lembek, warna kuning / hitam.
- BAK : frekuensi, warnanya, adakah keluhan / kseulitan BAK banyaknya.
c. Pola aktifitas
Untuk mengetahui apakah bayi akan menangis kual bila BAB/BAK/saat bayi lapar.
d. Pola aktifitas
- Lamanya tidur : frekuensi
- Kebiasaan tidur : pakai bantal/guling/dll
- Suasana lingkungan yang mendukung tidur.
e. Pola personal hygiene
Untuk mengetahui bagaimana kebersihan tubuh bayi seperti berapa kali diseka / dimandikan, berapa kali ganti baju dan popok dalam sehari.


B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
 Keadaan umum : bagaimana tingkat kesadaran, jenis kelamin, Apgar skor, sianosis / adakah ikterus, hipertermi atau tidak
 Kesadaran : Untuk mengetahui tingkat kesadaran
 TTV : Untuk mengetahui fungsi kerja organ vital
o Suhu : Untuk mengetahui temperatur bayi (36,5-37oC)
o Nadi : Untuk mengetahui frekuensi detak jantung per menit (Normal : 120 x/m – 150 x/m)
o RR : Untuk mengetahui frekuensi pernafasan / menit (Normal : 30-60 x/menit)
2. Pemeriksaan tumbuh kembang
a. Pemeriksaan tumbuh
- BBL : normal / tidak (normal : 2500-4000 gr)
- PB : normal/tidak (normal : 48-54 cm)
- LD : normal/tidak (normal : 32-36 cm)
- LK : normal/tidak (normal : 32-35 cm)
o MO : N : 35 cm (Lingkar besar kepala)
o FO : N : 34 cm (Lingkar sedang kepala)
o SOB : N : 32 cm (Lingkar kecil kepala)
b. Pemeriksaan kembang
 Reflek Moro / terkejut : ada / tidak
 Tonick neck refleks/tonus leher : ada / tidak
 Graps refleks / menggenggam : ada / tidak
 Suckling refleks / menghisap : ada / tidak
 Swallowing refleks / menelan : ada / tidak
 Rooting refleks mencari putting : ada / tidak
3. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
 Kepala : Warna rambut, jenis rambut, ubun-ubun besat datar atau ada cekungan, adakah caput sucedaneum, molage/tidak, bersih/tidak.
 Wajah : Sianosis/tidak, oedem/tidak, simetris/tidak
 Kulit : Warna kulit, adakah tanda lahir/bercak hitam, adakah verniks caseosa
 Mata : Simetris/tidak, conjungtiva pucat/tidak, sklera icterus
 Hidung : Simetris/tidak, adakah sekret, adakah pernafasan cuping hidung, adakah polip
 Mulut : Simetris/tidak, bersih/tidak, adakah stomatis, bagaimana mulut adakah labiopalatoskizis
 Telinga : Simetris/tidak, bersih/ada sekret, adakah serumen
 Leher : - Adakah pembesaran kelenjar tiroid
- Adakah bendungan vena jugularis
- Bagaimana bentuk leher panjang/pendek
 Dada : Berapa ukuran lingkar dada (cm), simetris/tidak, ada tarikan dada saat pernapasan, bagaimana putting susu simetris/tidak
 Abdomen : Bentuk abdomen menonjol/distensi, pada umbilicus adakah perdarahan, adakah tanda-tanda infeksi disekitar tali pusat, basah/kering, apakah tali pusat sudah lepas
 Genetalia : Bersih/tidak, jenis kelamin laki-laki/perempuan
• Wanita : apakah labia mayora menutupi labia minora, adakah pengeluaran flour albus, adakah/terdapat kelainan/tidak pada vagina
• Laki-laki : testis 2 buah
 Anus : Adakah atresia ani, bersih/tidak, sudah keluar mekonium apa belum
 Ekstremitas
• Esktremitas atas : kedua tangan simetris/tidak, adakah gangguan pegerakan, jumlah jari lengkap, adakah kelainan kongenital
• Ekstremitas bawah : kedua kaki simetris/tidak, adakah gangguan pergerakan/tidak, jumlah jari lengkap/tidak, adakah kelainan pada jari (polidaktil/mondaktil), garis telapak kaki jelas/tidak
b. Palpasi
 Kepala : meraba bagian ubun-ubun cekung/cembung, memastikan tidak ada benjolan, meraba molage ada/tidak, mengukur lingkar kepala
 Leher : - ada pembesaran kelenjar tiroid/tidak
- ada bendungan vena jugularis/tidak
 Dada : ada benjolan abnormal/tidak, mengukur lingkar dada
 Abdomen : pembagian kuadran :
c. Auskultasi
 Dada : adakah ronchi, wheezing, napas teratur atau tidak, frekuensi 120-150 x/menit
 Abdomen : adakah bising usus (normal 7-11 x/menit)
d. Perkusi
 Abdomen : kembung/tidak
4. Pemeriksaan Penunjang
- Darah lengkap
- USG
- Foto rontgen

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA, MASALAH, DAN KEBUTUHAN
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan intervensi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
• Diagnosa : Bayi baru lahir ……. umur …… dengan ……..
DS : adanya komunikasi verbal, ibu, klien, keluarga, dan para medis tentang yang dialami klien tersebut. Ibu mengatakan telah melahirkan anak ke …. Jenis kelamin ….. pada tanggal …. Jam …. BBL/PB …….
DO : - Keadaan umum : Baik
- TTV - nadi : 120-150 x/menit
- suhu : 36,5-37,5oC
- RR : 40-60 x/menit
- BB/PB : 2500-4000 gr/48-54 cm
- Lingkar dada : 33-36 cm
- Lingkar kepala : MO : 35 cm
SOB : 32 cm
FO : 34 cm
- Tangisan bayi
- Adakah cacat konginetal, atresia ani/tidak
- Jenis kelamin
• Masalah (bila ada)
• Kebutuhan
Sesuai diagnosa dan masalah yang ditemukan, keadaan yang kemungkinan akan terjadi dan memerlukan antisipasi.
Ex : - Nutrisi yang cukup ASI
- Pemberian susu formula baik melalui spin, sendok, NGT
- Perawatan bayi sehari-hari
- Kasih sayang perawt dan

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Untuk mengetahui / mengidentifikasikan masalah potensial yang mungkin terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasikan atau berdasarkan intervensi data yang benar atas data yang telah dikumpulkan.
Ex : - Potensial terjadi hipotensi
- Potensial terjadi hipoglikemia
- Potensial terjadi ikterus
- Potensial terjadi infeksi

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Untuk mengidentifikasikan perlunya tindakan segera oleh bidan/dokter atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

V. INTERVENSI
Untuk menerapkan asuhan menyeluruh yang rasional dengan temuan diri langkah sebelumnya (yaitu menentukan tujuan kriteria).
Diagnosa : Bayi baru lahir ….. umur …… dengan ……
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama IX ……. diharapkan keadaan bayi :
- Tidak terjadi komplikasi
- Kemampuan minum bertambah
- Kehangatan terjaga
Kriteria Hasil
- TTV dalam batas normal
Nadi : 120-160 x/menit
S : 36,5-37,5 oC
RR : 40-60 x/menit
- BB bertambah dibanding setelah lahir
Intervensi (menyusun rencana yang menyeluruh dengan rasional)
1) Lakukan pendekatan pada keluarga bayi melalui komunikasi terapeutik
Rasional : menjalin kerjasama yang baik agar keluarga klien kooperatif
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
Rasional : mencegah kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial dari petugas ke bayi atau sebaliknya
3) Observasi TTV
Rasional : TTV merupakan deteksi dini adanya kelainan dalam tubuh
4) Lakukan perawatan tali pusat yang baik mencegah masuknya kuman
Rasional : perawatan tali pusat yang baik mencegah masuknya kuman lewat tali pusat sehingga mencegah terjadinya infeksi
5) Keringkan dan selimuti bayi dengan kain bersih dan kering
Rasional : menghindari terjadinya kehilangan panas dan bayi tetap dalam keadaan hangat
6) Berikan ASI secara adekuat
Rasional : pemberian ASI merupakan sarana pemenuhan nutrisi yang baik bagi bayi
7) Ingatkan ibu untuk selalu menyendawakan bayinya setiap kali setelah meneteki.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya aspirasi

VI. IMPLEMENTASI
Mengacu pada Intervensi
Melaksanakan rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah dikumpulkan/diuraikan pada Intervensi (langkah V)

VII. EVALUASI
Mengacu Intervensi (tujuan dan kriteria) serta implementasi.
Dilaksanakan evaluasi keefektifan dan asuhan yang sudah diberikan dalam evaluasi menggunakan format SOAP














BAB III
TINJAUAN KASUS

I. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 24 Mei 2011
Jam : 16.00 WIB

B. Data Subyektif
1) Biodata
Nama : Bayi Ny “W”
Tanggal lahir : 24 Mei 2011 Jam : 15.45 WIB
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 0 hari
Anak ke : 1
Alamat : Juwet Tembelang

Nama Ibu : Ny “W” Nama suami : Tn “M”
Umur : 21 tahun Umur : 20 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Penghasilan : - Penghasilan : ± Rp 1.000.000/bulan
Alamat : Juwet Alamat : Juwet
2) Keluhan utama
Ibu mengatakan bayi dalam keadaan baik, pergerakan aktif
3) Riwayat kesehatan sekarang
Bayi anak ke 1, umur kehamilan 38 minggu, lahir spontan, laki-laki BB : 2500 gram, PB 48cm
4) Riwayat penyakit dahulu
Ibu mengatakan saat hamil ibu tidak pernah menderita penyakit menahun dan menurun seperti hipertensi, asma, jantung, hepatitis, DM.
5) Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan didalam keluarganya dari pihak ibu tidak ada yang menderita penyakit menahun dan menurun seperti hipertensi, asma, jantung, hepatitis, DM.
6) Riwayat Neonatal
a. Riwayat prenatal
1) Ibu hamil anak ke 3 dengan umur kehamilan 40 minggu
2) ANC TM I : 3x di Bidan
TM II : 2x di Bidan
TM III : 3x di Bidan
3) Keluhan selama hamil :
TM I : mual, muntah, pusing
TM II : tidak ada keluhan
TM III : tidak ada keluhan
4) Obat-obatan yang pernah didapat : B6, kalk, Fe
5) Imunisasi TT : T5 umur kehamilan 4 bulan
6) Penyuluhan yang pernah didapat :
- Personal hygiene
- Gizi ibu hamil
- Istirahat cukup
- Tanda bahaya kehamilan
- Persiapan persalinan
- Senam hamil
7) HPHT : 25.8.2011
8) TP : 28.5.2011
Riwayat Natal
1) Riwayat 24 Mei 2011 Jam 15.45 WIB, bayi lahir jenis kelamin laki-laki dengan usia kehamilan 38 minggu
2) Persalinan ditolong oleh bidan di PONEK Puskesmas Tembelang
3) Keadaan
Langsung menangis kuat
TTV
Nadi : 120 x/menit
Suhu : 36,8o C
Respirasi : 40 x/menit

b. Riwayat Post Natal
1) Keadaan bayi saat lahir baik
2) Setelah bayi lahir segera dibersihkan, dikeringkan dan dihangatkan
3) Bayi diberi ASI
4) Tidak ada cyanosis, tidak ikterus
5) BAB : belum BAB
6) BAK : warna kuning, bau khas
7) Kebutuhan dasar
a. Pola nutrisi
Bayi mendapat ASI, reflek menghisap kuat
b. Pola istirahat/tidur
Tidur  12 jam/hari, bangun jika popok basah dan lapar
c. Pola aktivitas
Aktif bergerak, menangis jika popok basah dan lapar
d. Pola eliminasi
BAK : bayi belum BAK
BAB : bayi belum BAB
e. Pola personal hygiene
Tali pusat diganti setiap habis mandi, ganti popok segera jika basah
8) Riwayat psikososial
Ibu merasa senang dengan kelahiran bayi pertamanya.
Ibu berencana merawat bayinya sendiri

C. Data Obyektif
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV Nadi : 124 x/menit
Suhu : 36,6o C
RR : 42 x/menit
2) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Kepala : simetris, rambut jarang, tidak ada benjolan, tidak ada chepal hematoma, UUB belum menutup.
Muka : kemerahan, tidak ada vernik caseosa
Mata : simetris, reflek terhadap cahaya baik, conjungtiva merah muda, sclera putih
Hidung : simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cuping hidung
Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
Mulut & gigi : tidak ada cyanosis, mukosa bibir kering, lidah bersih, tidak ada labio schizis, gigi belum tumbuh
Leher : tidak ada pembengkakan pada kelenjar thyroid dan tidak ada bendungan vena jugularis
Dada : simetris, jarak puting susu sejajar dan simetris, tidak ada retraksi dinding dada
Abdomen : tidak ada lesi, tali pusat kering dan tertutup kassa steril
Punggung : tidak ada spina bifida, tidak ada kifosis atau skoliosis
Genetalia : testis 2 buah
Ekstremitas atas : tidak ada fraktur, pergerakan aktif
Ekstremitas bawah : tidak ada fraktur, pergerakan aktif
b. Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid atau bendungan vena jugularis
Abdomen : tidak ada pembesaran hepar, tidak ada perdarahan tali pusat
Ekstermitas atas : tidak oedem
Ekstremitas bawah : tidak oedem
c. Auskultasi
Dada : tidak ada ronchi dan wheezing, pernafasan belum teratur, frekuensi jantung 120 x/menit
Abdomen : tidak ada bising usus
d. Perkusi
Abdomen : tidak kembung
3) Pemeriksaan Neurologis
a) Reflek pelindung
Moro reflek 
Tonic neck reflek 
Babynski reflek 
Graps reflek 
b) Reflek makan
Rooting reflek 
Suchking reflek 
Swallowing refleks 
Pemeriksaan antropometri
a. Pertumbuhan
BB : 2500 gram
PB : 48 cm
b. Lingkar dada : 30 cm
c. Lingkar kepala
SOB : 29 cm
MO : 33 cm
FO : 30 cm
4) Pemeriksaan penunjang
Berat badan : 2500 gram
Panjang badan : 48 cm

II. Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
Diagnosa : Bayi Ny “W” umur 0 hari dengan NCB
Ds : Tidak ada
Do : Pada tanggal 24 Mei 2011 Jam : 15.45 WIB bayi lahir jenis kelamin laki-laki
BB/PB : 2500 gram / 48 cm
Lingkar kepala : SOB : 29 cm
MO : 33 cm
FO : 30 cm
Lingkar dada : 30 cm
Usia kehamilan : 38 minggu
Kesadaran umum : baik
TTV Nadi : 124x/menit
Suhu : 36,6˚C
RR : 42x/menit
Reflek menghisap kuat
Menangis kuat
Tidak ada tanda-tanda infeksi
Masalah : tidak ada

III. Antisipasi Masalah Potensial
-
IV. Identifikasi Kebutuhan Segera
-
V. Intervensi
Diagnosa : Bayi Ny “W” umur 0 hari dengan NCB
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam waktu 1 x 30 menit diharapkan bayi dalam keadaan normal
Kriteria hasil : - Keadaan umum baik
- Kesadaran composmentis
- TTV dalam batas normal
Nadi : 120 – 160 x/menit
Suhu : 36,5 – 37,2o C
RR : 40 – 60 x/menit
- Pergerakan aktif
- Bayi menangis kuat
- Reflek menghisap kuat
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi
1) Lakukan pendekatan pada keluarga bayi melalui komunikasi terapeutik
Rasional : menjalin kerjasama yang baik agar keluarga klien kooperatif
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
Rasional : mencegah kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial dari petugas ke bayi atau sebaliknya


3) Observasi TTV
Rasional : TTV merupakan deteksi dini adanya kelainan dalam tubuh
4) Ajarkan keluarga perawatan tali pusat yang baik mencegah masuknya kuman
Rasional : perawatan tali pusat yang baik mencegah masuknya kuman lewat tali pusat sehingga mencegah terjadinya infeksi
5) Ingatkan keluarga untuk menyelimuti bayi dengan kain bersih dan kering
Rasional : menghindari terjadinya kehilangan panas dan bayi tetap dalam keadaan hangat
6) Berikan ASI secara adekuat dan hentikan pemberian susu formula
Rasional : pemberian ASI merupakan sarana pemenuhan nutrisi yang baik bagi bayi
7) Ingatkan ibu untuk selalu menyendawakan bayinya setiap kali setelah meneteki.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya aspirasi
8) Ajarkan ibu untuk menjemur bayi dibawah sinar matahari selama 10-15 menit (pukul 07.00-08.00)
Rasional : untuk memenuhi kecukupan vitamin D yang diperoleh dari sinar matahari

VI. Implementasi
Diagnosa : Bayi Ny “W” umur 0 hari dengan NCB
Tanggal : 24 Mei 2011 Jam : 16.30 WIB
1) Melakukan pendekatan pada keluarga bayi melalui komunikasi terapeutik dengan cara menyapa dengan ramah, menjawab semua pertanyaan ibu jika ibu belum jelas.
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan yaitu mencuci tangan dengan 7 langkah, yaitu:
1. Siram tangan sampai telapak tangan
2. Bersihkan sela-sela jari tangan
3. Gosok punggung tangan
4. Bersihkan ujung kuku kanan di telapak tangan
5. Bersihkan ujung kuku kiri di telapak tangan
6. Bersihkan jempol tangan
7. Bersihkan tangan sampai siku


3) Mengobservasi TTV
Hasil observasi : Nadi : 124x/menit
Suhu : 36,6˚C
RR : 42x/menit
4) Mengajarkan keluarga perawatan tali pusat dengan cara menutupnya dengan kasa steril dan mengganti setiap selesai mandi atau jika basah

5) Mengingatkan keluarga untuk menyelimuti agar tetap kering dengan cara dibedong

6) Memberikan ASI secara adekuat sesuai kebutuhan dan sesering mungkin dan menghentikan pemberian susu formula.

7) Mengingatkan ibu untuk menyendawakan bayinya setelah minum ASI dengan membuat posisi bayi menempel di pundak.

8) Mengajarkan ibu untuk menjemur bayinya dibawah sinar matahari selama 10-15 menit yaitu antara pukul 07.00-08.00

VII. Evaluasi
Tanggal 24 Mei 2011 Jam : 17.00 WIB
Diagnosa : Bayi Ny “W” umur 0 hari dengan NCB

S : Tidak ada
O : Keadaan umum baik
Kesadaran composmentis
Bayi bisa menyusu dengan benar
Bayi tidur dengan nyenyak
A : Bayi Ny “W” umur 0 hari dengan NCB
P : HE
1. Perawatan bayi sehari-hari
2. Kembali kontrol hari ke-7, hari 8-28 1x, atau jika ada tanda risiko
3. Rencanakan imunisasi BCG pada usia 4 minggu


BAB VI
PEMBAHASAN

Analisa dari penulis mengenai kesenjangan-kesenjangan yang terjadi antara teori dengan tinjauan kasus setelah melakukan asuhan kebidanan pada BBL Ny “W” umur 0 hari dengan NCB, di PONEK Puskesmas Tembelang. tanggal 24 Mei 2011 tidak muncul kesenjangan karena bayi Ny “W” NCB lahir normal.
Dalam teori muncul masalah potensial, antara lain :
1. Hipotermi : Dalam tinjauan kasus pada bayi Ny “W” tidak terjadi.
Hal ini disebabkan karena saat BBL dilakukan penanganan BBL yaitu dengan menggedong bayi dengan handuk bersih segera, tidak dimandikan dalam 6 jam pertama.
2. Hipoglikemi : Dalam tinjauan kasus pada bayi Ny “W” tidak terjadi.
Hal ini disebabkan karena setelah BBL bayi langsung menetek pada ibu dan bayi memperoleh ASI secara maksimal.
3. Ikterus : Dalam tinjauan kasus pada bayi Ny “W” tidak terjadi.
Hal ini disebabkan karena bayi memperoleh ASI.
4. Infeksi : Dalam tinjauan kasus pada bayi Ny W” tidak terjadi.
Hal ini disebabkan karena dilakukan perawatan tali pusat dengan baik yaitu menggunakan kasa steril/kering.














BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir Ny “W” dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a. Bayi Ny “W” lahir secara spontan, menangis keras, pukul 15.45 WIB tanggal 24 Mei 2011, jenis kelamin laki-laki , BB : 2500 gram PB : 48 cm.
b. Dari hasil pengkajian didapatkan diagnosa bahwa bayi baru lahir Ny “W” dengan NCB.
c. Masalah yang timbul pada bayi Ny “W” tidak ada.
d. Diperlukan intervensi terhadap asuhan bayi baru lahir pada Ny “W” dengan NCB.
e. Intervensi dan implementasi yang telah dibuat dilakukan sesuai dengan kondisi situasi dan kebutuhan pasien.
f. Pada evaluasi bayi baru lahir Ny “W” dengan NCB tidak terdapat masalah yang memerlukan kebutuhan segera.

5.2 S a r a n
Untuk mencegah kondisi yang tidak diinginkan pada bayi baru lahir. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Penanganan bayi baru lahir
• Membersihkan jalan nafas.
• Memotong jalan nafas.
• Memperhatikan suhu tubuh bayi.
• Pencegahan infeksi.
b. Pemantauan bayi baru lahir
Hendaknya meningkatkan keterampilan dan peningkatan jenjang pendidikan sehingga dalam memberikan asuhan kebidanan pada BBL akan lebih sempurna sehingga kematian neonatal berkurang bahkan tidak ada.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A. 2006. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Jakarta. Media Aesculapius.

Suriadi, Yulianti. 2001. Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta. CV. Sagung Seto.

Prawiroharjo, Sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta. YBPSP

Richard, E. Bohrman, dkk. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC.

Rusepno Hasan, dkk. 2000. Buku Kuliah I Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI

Syaifuddin Abd.Bari. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBDSP
.

Kamis, 26 Mei 2011

TINJAUAN TEORI KB PIL KOMBINASI PKM TEMBELANG PKK II

ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY “ S “ P20002 UMUR 40 TAHUN AKSEPTOR KB PIL KOMBINASI ULANG
DI RUANG KIA PUSKESMAS TEMBELANG
KAB. JOMBANG
PKK II ROTASI 1 (16-28 MEI 2011)

Oleh :

AGUSTIN PRASETYANINGATI
NIM : 090403002

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PEMKAB JOMBANG
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
2011


KATA PENGANTAR


Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas asuhan kebidanan Ny “ S “ P20002, umur 40 tahun akseptor KB pil kombinasi (ulang) di ruang kia puskesmas tembelang sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan praktek klinik kebidanan II.
Dalam penyusunan asuhan kebidanan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kepala Puskesmas,
2. Bidan Koordinator, Guritna A.G, SST
3. Pembimbing klinik, Nuning, Amd. Keb
4. Pembimbing akademik, Sestu Retno D.A.,S.Kep,M.Kes
5. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penulisan asuhan kebidanan ini baik secara langsung maupun tidak langsung
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu apabila ada kritik dan saran dari pembaca, kami dengan senang hati akan menerima segala macam masukan dan saran dari pembaca kami ucapkan terima kasih.

Jombang, 19 Mei 2011

PenuliS


LEMBAR PENGESAHAN


Telah disahkan pada :
Hari :
Tanggal :
Tempat : Puskesmas Tembelang

Mengetahui

Pembimbing Akademik, Pembimbing Ruangan



Sestu Retno D.A, S.Kep M. Kes Guritna A.G, S.ST


Bidan Koordinator



Guritna A.G, S.ST










BAB I
TINJAUAN TEORI
KB PIL KOMBINASI

I. Definisi KB
Menurut WHO : Tindakan yang membantu suami istri untuk
1. Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4. Mengatur interval kelahiran
5. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri
6. Menentukan jumlah anak dalam keluarga
(dr. Hanafi H)
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan supaya ini dapat bersifat sementara, dapat juga permanent
(Sarwono, 2002)

II. Metode KB
1. Metode amenorea laktasi (Mal)
2. Metode KB alami
3. Coitus interuptus
4. Metode barier
- Kondom
- Diafragma
- Spermisida
5. Kontrasepsi kombinasi
- Pil kombinasi
- Suntikan kombinasi
6. Kontrasepsi progestin
- minipill
- Suntikan progestin
- Implant
- AKDR dengan progestin
7. AKDR
8. Kontrasepsi mantap
- MOP
- MOW

III. Definisi Kontrasepsi Pil KB
Kontrasepsi kombinasi atau pil kombinasi adalah alat kontrasepsi yang berbentuk pil yang tersedia dalam kemasan berisi 21 tablet yang mengandung hormon estrogen dan progesteron yang memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 100 perempuan dalam tahun pertama penggunaan). (Syaifuddin)
Pil KB atau oral contraceptives pill merupakan alat kontrasepsi hormonal yang berupa obat dalam bentuk pil yang dimasukkan melalui mulut (diminum), berisi hormon estrogen dan atau progesteron. bertujuan untuk mengendalikan kelahiran atau mencegah kehamilan dengan menghambat pelepasan sel telur dari ovarium setiap bulannya. Pil KB akan efektif dan aman apabila digunakan secara benar dan konsisten (Sastrawinata, 2000).

IV. Fungsi
• Sebagai alat kontrasepsi
• Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
• Mengatur jumlah dan jarak kehamilan

V. Cara kerja Pil KB
- Menekan ovulasi
- Mencegah implantasi
- LendIr serviks mengental sehingga sulit dilalui sperma
- Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi sel telur sendirinya akan terganggu


VI. Jenis Pil KB
• Mini pill isinya 1 jenis hormon yaitu estrogen atau progesteron
• Pil kombinasi yaitu berisi 2 hormon yaitu estrogen dan progesteron
• Pill sekuensial yaitu pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan system hormonal tubuh. 12 pil pertama hanya mengandung estrogen, pil ke 13 dan seterusnya merupakan kombinasi
• Progesterone,hanya mengandung progesterone dipergunakan ibu post partum
• KB darurat hormonal digunakan segera setelah hubungan seks
VII. Keuntungan Pil KB
1. Dapat dipakai pengobatan beberapa masalah
2. Ketegangan menjelang menstruasi
3. Perdarahan menstruasi yang tidak teratur
4. Tidak nyeri saat menstruasi
5. Pengobatan penyakit endometriosis
6. Dapat meningkatkan libido
Kerugian memakai Pil KB :
1. Harus minim pill secara teratur
2. Dalam waktu panjang menekan fungsi ovarium
3. Penyulit ringan : berat badan bertambah , rambut rontok, tumbuh acne, mual muntah.

VIII. System kemasan pil
System kemasan pill KB diatur dengan system 28 dan system 22 atau 21 :
• System 28 : peserta KB pill terus minum pill tanpa pernah berhenti
• System 22 atau 21 : peserta KB pill berhenti minum pill selama 7 sampai 8 hari dengan mendapat kesempatan menstruasi

IX. Petunjuk pemakaian Pil KB
Peserta KB pill merupakan peserta terbesar dengan diharapkan keberhasilan yang tinggi. Untuk mencapai hasil yang baik,petunjuk tentang pemakaian KB pill perlu diterangkan.
• Minumlah pill KB dengan teratur
• Bila lupa maka pill KB harus diminum menjadi 2 buah sekaligus
• Bila lupa minum pil 2 hari berturut-turut maka dapat diminum 2 pil keesok harinya dan 2 pil lusanya
• Bila perdarahan tidak memerlukan perhatian karena belum beradaptasi
• Gangguan ringan dalam bentuk mual muntah sebaiknya diatasi bila komplikasi yang berat dalam bentuk perdarahan dan mual muntah berlebihan,penderita harus dilakukan konsultasi atau dirujuk ke RS

X. Kapan Pil KB mulai di minum?
Pedoman untuk memberikan pill KB sbb :
• Pada post partum dapat dimulai dengan eksluton yang mengandung komponen progesterone
• Post abortus atau hari ke 5 menstruasi
• Ganti cara pemakain pill KB yaitu segera dapat dimulai minum pill KB, dapat dipakai kombinasi,dapat terjadi perubahan menstruasi

XI. Kapan metode Pil KB tidak dapat diberikan?
Beberapa penyakit pemakaian pill KB tidak dianjurkan seperti :
1. Penyakit hati
2. Penyakit DM
3. Penyakit gangguan mental
4. Perdarahan
5. Ca mamae
6. Ca ovarium
7. Endometriosis
8. Kelainan jinak pada payudara

XII. Jenis pil kombinasi
Monofasik : pill yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen atau progesterondalam dosis yang sama dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.
Bifasik : pill yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen/progesterone dengan 2 dosis yang berbeda dengan 7 tablet tenpa hormone aktif.
Trifasik : pill yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen/progesterone dengan 3 dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa homon aktif.

XIII. Manfaat pil kombinasi
1. Memiliki efektifitas yang tinggi bila digunakan setiap hari
2. Risiko terhadap kesehatan sangat kecil
3. Tidak mengganggu hubungan seksual
4. Siklus haid menjadi teratur,banyaknya darah jaid berkurangdan tidak menyebabkan anemia
5. Dapat digunakan jangka panjang selama ingin mencegah kehamilan
6. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause
7. Dapat dihentikan sewaktu-waktu
8. Kesuburan segera kembali saat penggunaan pil dihentikan
9. Membantu mencegah KET,CA ovarium,CA endometrium,kista ovarium,,dan kelainan jinak pada payudara.

XIV. Keterbatasan pil kombinasi
1. mahal dan membosankan
2. mual pada 3 bulan pertama
3. perdarahan atau bercak sela terutama 3 bulan pertama
4. pusing
5. nyeri payudara
6. berat badan naik sedikit tetapi pada wanita tertentu,kenaikan berat badan justru memiliki dampak tertentu
7. aminore jarang pada pill kombinasi
8. tidak boleh diberikan pada wanita menyusui
9. pada sebagian kecil wanita
10. dapat meningkatkan tekanan darah atau retensi cairan sehingga risiko stroke dan gangguan pembekuan darah.
11. Tidak mencegah IMS

XV. Yang dapat menggunakan pil kombinasi
1. Usia reproduksi
2. Telah memiliki anak atau belum memiliki anak
3. Wanita gemuk atau kurus
4. Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi
5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
6. Setelah melahirkan 6 bulan dan tidak menyusui
7. Pasca keguguran
8. Anemia karena haid berlebihan
9. Nyeri haid hebat
10. Siklus haid tidak teratur
11. Riwayat KET
12. Kelainan payudara jinak
13. Varises pada vena

XVI. Yang tidak boleh menggunakan pil kombinasi
1. Hamil
2. Menyusui
3. Perdarahan pervaginam
4. Menderita hepatitis
5. Perokok usia lebih dari 35 tahun
6. Riwayat penyakit jantung,stroke dan tekanan darah tinggi
7. Riwayat gangguan kelainan pembekuan darah atau DM
8. Kanker payudara
9. Migraine, epilepsy
10. Sering lupa atau tidak biasa menggunakan pil setiap hari


XVII. Waktu menggunakan pil kombinasi
1. Setiap saat selagi haid untuk meyakinkan kalau wanita tersebut tidak haid
2. Haid pertama sampai hari ke 7 siklus haid
3. Boleh menggunakan pada hari ke 8 tetapi perlu menggunakan metode KB yang lain mulai hari ke 8 sampai hari ke 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai wanita tsb telah menghabiskan pill tsb.
4. Setelah melahirkan yaitu setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif , setelah 3 bulan dan tidak menyusui,pasca keguguran.
5. Bila berhenti menggunakan KB injeksi dan ingin menggantikan dengan KB pill kombinasi maka dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid.



























DAFTAR PUSTAKA


Manuaba, Ida Bagus. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk pendidikan bidan, Jakarta : EC6

Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBDSP

Prawiroharjo, Sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta. YBPSP

Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsi Obstetri Jilid I. Bandung : EC6

Syaifuddin, Abd Bari. 2006. Buku Panduan Pelayanan KB. Jakarta : YBPSP

Kamis, 05 Mei 2011

aliran psikologi

MAKALAH
MACAM-MACAM ALIRAN PSIKOLOGI

By:
Agustin prasetyaningati
Dewi kartika sari
Oktarina wartidatul hidayati
Retno Sari
Yuli andrianti


STIKES PEMKAB JOMBANG
Prodi D3 Kebidanan
Tahun ajaran 2009-2010
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah tentang MACAM-MACAM ALIRAN PSIKOLOGI ini bisa terselesaikan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari masih belum sempurna, seraya dengan itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa diharapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.








Penulis







DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL........................................................................................................ i

KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................................... iii

BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 1

BAB II:PEMBAHASAN TENTANG MACAM-MACAM ALIRAN PSIKOLOGI

BAB III: PENUTUP
3.1 Simpulan......................................................................................................
3.2 Saran............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................






BAB III
PEMBAHASAN
MACAM-MACAM ALIRAN PSIKOLOGIS
Empat teori psikologi

Teori Konsepsi tentang manusia Tokoh-tokohnya Kontribusi pada psikologi sosial
Psikoanalisis Homo volens (manusia berkeinginan) Freud, Jung, Adler, Abraham, Horney, Biyon Perkembangan kepribadian sosialisasi identefikasi agresi kebudayaan dan perilaku
Kognitif Homo sapiens (manusia berpikir) Lewin, Heider, Festinger, Piaget, Kohlberg Sikap bahasa dan berpikir
dinamika kelompok propa ganda
Behaviorisme
Homo mechanicus (manusia mesin) Hull, Miler & Dollard, Rotter, Sklinner, Bandura Persepsi interpersonal
Konsep diri
Experimen
Sosialisasi
Kontrol sosial
Ganjaran dan hukuman
Humanism Homo ludens (manusia bermain) Rogers, Combs & Snygg, Masiowi, May satir, Peris Konsep diri trasaksi interpersonal
Masyarakat dan individu
Pendekatan Psikoanalitik
PENGERTIAN PENDEKATAN PSIKOANALITIK

Konsep pendekatan Psikoanalitik mengenai perilaku manusia dikembangkan oleh Sigmund Freud di benua Eropa pada waktu yang hampir bersamaan dengan masa evolusi aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Pandangan Psikoanalitik mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap pemikiran psikologi. Teori yang dikemukakan Sigmund Freud Mengatakan bahwa sebagian besar perilaku kita berasal dari
Proses yang tidak disadari
(unconscious processes)
Yang dimaksud freud tentang proses yang tidak disadari adalah :
• Adalah pemikiran, rasa takut, keinginan-keinginan yang tidak disadari seseorang tetapi membawa pengaruh terhadap perilakunya.
• Example : Anda mungkin saja mempunyai ketakutan tidak lulus pada ujian akhir, oleh karena itu anda mencoba untuk belajar dengan giat demi kelulusan Anda.

Freud juga beranggapan bahwa :
1. Di dalam diri manusia terdapat berbagai macam impuls yang seringkali dilarang atau dihukum oleh orangtua pada masa kanak-kanak.
2. Impuls itu sebenarnya adalah bawaan atau instinc yang dibawa sejak lahir, karena setiap orang lahir dengan membawa berbagai impuls.
3. Melarang impuls itu hanya akan mendorong mereka keluar dari kesadaran dan masuk ke bawah sadar mereka. dimana mereka akan tetap mempengaruhi mimpi,mannaerisme dan bermanifestasi.

Freud juga berpendapat bahwa :
• Semua tindakan kita memiliki sebuah penyebab tetapi penyebab itu lebih sering merupakan motif bawah sadar kita ketimbang penalaran rasional yang menggerakkan perilaku kita.


Dalam teori Psikoanalitik, Freud membagikan struktur psikis atau mental manusia ke dalam 3 bagian yaitu :
• Id
• Ego
• Super Ego

1.Apakah Id itu ???
Id merupakan dorongan biologis yang berada dalam ketidaksadaran (dorongan nafsu) yang beroperasi menurut prinsip kenikmatan (pleasure principle) struktur mental ini sudah ada sejak lahir (bawah sadar)

2.Apakah Ego itu ???
Ego adalah struktur fikiran yang beroperasi menurut prinsip kenyataan (reality principle), yang mengutamakan pemikiran logika dan rasional (tahap sadar).

3. Apakah Super Ego itu ???
Super Ego itu Merupakan struktur yang terbentuk dari komponen sosial dan moral, struktur ini bertanggung jawab menentukan tingkah laku baik dan buruk,beroperasi menurut prinsip moral.


Pandangan negatif Freud mengenai kodrat manusia
• Dalam perspektif psikoanalitik, Freud mengemukakan bahwa sifat manusia dasarnya adalah negatif, ia meyakini bahwa kita didorong oleh instinc yang sama dengan hewan terutama seks dan agresi, dan kita secara terus menerus berjuang melawan suatu masyarakat yang menekankan terhadap pengendalian impuls tersebut.
• Pemikiran Freud tentang agresi adalah naluri sadar kita yang terus-menerus bergulat menentang masyarakat yang menekankan pengontrolan impuls ini. Ia juga menyatakan bahwa agresi adalah suatu instinc (naluri)yang berarti bahwa orang melakukan agresi untuk mengekspresikan keinginan pembawaan (inborne desire).
• PENDEKATAN PSIKOLOGI PENDEKATAN PSIKOANALITIK *Berdasarkan kepercayaan bahawa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh proses-proses psikologi tidak sedar, yang kita sendiri tidak sedar. *Tingkah laku kita adalah berdasarkan konflik dalaman, dorongan (impulse), kemahuan atau motif-motif yang tidak disedari. *Mengandaikan semua tingkah laku, normal & abnormal adalah hasil daripada interaksi faktor-faktor genetik dan persekitaran yang memberi kesan ke atas perubahan tingkah laku dengan mempengaruhi proses tidak sedar dan juga proses sedar psikologi.
• • Pelopor ahli teori psikoanalitik (psikodinamika) yang paling terkemuka di dunia.
• Beliau percaya setiap entiti ini bertanggung jawab bagi satu set operasi psikologi.
• Memperkenalkan teori struktur personaliti.
• Ahli teori ini menekankan kepentingan zaman awal individu dan mempercayai bahawa peristiwa semasa kecil mempunyai kesan sepanjang hayat pada psikologi individu.
PENDEKATAN PSIKOANALITIK SIGMUND FREUD (1856 – 1936)
• TEORI STRUKTUR PERSONALITI (STRUKTUR PSIKIK) id ego superego
• Teori Struktur Personaliti
• Id dominan pada bulan-bulan awal kehidupan bayi, apabila dorongan dan kemahuan begitu kuat mempengaruhi tingkah laku bayi.
• Ia dilihat sebagai elemen psikik yang pertama mempengaruhi tingkah laku.
ID Sumber dorongan dan nafsu yang diwarisi Primitif Mementingkan diri sendiri Tiada pengaruh dunia realiti (pengaruh tamadun)
• EGO Bertanggungjawab dan cuba mengawal dorongan dan desakan primitif agar mengikut lebih dekat dengan kehendak persekitaran. Ego secara perlahan-lahan mengambil tanggung jawab menjadikan dorongan primitif id lebih mengikut pada kehendak moral dan piawaian etika masyarakat. Prinsip realiti mengiktiraf permintaan atau kehendak masyarakat yang realistik. Operasi ego berpandukan kepada prinsip realiti, bukan pada prinsip keseronokan yang mempengaruhi id.
• Superego Bila kanak-kanak bertambah besar, peranan ego semakin bertambah. Ia mesti berurusan dengan superego yang merupakan sumber awal suara hati ( conscience), iaitu kebolehan untuk membezakan yang baik daripada yang buruk. Superego muncul secara perlahan-lahan bila kanak-kanak mula mempelajari peraturan yang digunakan oleh ibu bapanya untuk menginterpretasi jangkaan masyarakat.Ibu bapa berperanan sebagai conscience sehinggalah kanak-kanak secara evolusi membina set piawai dalamannya Bagi kanak-kanak yang dibesarkan oleh ibu bapanya secara melampau, dia akan bersifat kritis, menghukum, dan mendenda, permintaan ini boleh menjadi keterlaluan(excessive). Dalam kes ini superego menjadi tidak fleksibel atau ketat. Hal ini menyebabkan kanak-kanak tidak dapat menikmati keseronokan normal pada zamannya. Apabila kanak-kanak yang mempunyai superego punitif meninkat remaja, mereka berkemungkinan menghadapi masalah dalam memenuhi permintaan superego. Freud percaya kerisauan dan kemurungan biasanya datang bersama dgn kehendak superego yang melampau.
• Mengikut Pendekatan Psikoanalitik;
• Id, ego dan superego biasanya mempunyai matlamat & kaedah yang berbeza.
• Jika id dan superego menjadi cukup kuat untuk menguasai ego, biasanya hal ini akan akan berakhir dengan konflik dalaman dalam diri individu tersebut.
• Sekiranya konflik antara tiga komponen struktur psikik ini tidak selesai mungkin akan membawa kepada kecelaruan mental.
PENDEKATAN PSIKOANALITIK
• • Peristiwa yang dialami semasa kecil mempunyai kesan apabila individu tersebut berada di alam dewasa.
• Freud percaya kanak-kanak membesar dengan melalui pelbagai tahap psikoseksual pada peringkat-peringkat yang sudah ditetapkan.
• Pada setiap peringkat ini, ada bahagian badan yang membekalkan kepuasan dorongan seksual.
• Kanak-kanak yang melalui tahap anal, oral, latensi dan genital dengan cara yang memuaskan akan menjadi orang dewasa yang normal.
• Jika terdapat kekecewaan atau kelebihan di sebarang tahap, maka akan terdapat fixation yang mempengaruhi sifat individu pada kehidupan dewasa.
• Contohnya: seseorang yang makan terlalu banyak di tahap oral mungkin akan mempunyai fixation di tahap ini dan mungkin menjadi orang yang gemuk atau penagh dadah bila dewasa.
PENDEKATAN PSIKOANALITIK ABNORMALITI
• Kesimpulannya: Pendekatan ini memberi sumbangan yang besar dalam membantu kita memahami perkembangan personaliti manusia.Pendapat tentang pengaruh id, ego dan superego dari zaman kanak-kanak bagi perkembangan personaliti seseorang telah merangsang banyak penyelidikan.Pendapat ini juga berpengaruh dalam disiplin-disiplin seperti seni, kesusasteraan Inggeris dan sejarah.
• Pendekatan Kognitivisme
• Pendekatan yang memberi perhatian khusus kepada proses pemikiran individu seperti KBKK, kemahiran belajar, motivasi, dll.
• Ahli psikologi kognitif percaya bahawa peristiwa-peristiwa dalaman yang berlaku pada seseorang mesti dikaji, jika keseluruhan tingkah laku ingin difahami.
• Berbeza dengan pendekatan psikoanalisis yang mengfokus kepada pemikiran tidak sedar, pendekatan behaviorisme yang mengfokus kepada faktor persekitaran dan tingkah laku.
• • Pendekatan ini berpendapat bahawa manusia adalah individu yang bebas dan baik dengan potensi untuk berkembang dan mempunyai sasaran untuk dicapai.
• Teori ini menyatakan bahawa manusia terdorong bertindak melakukan sesuatu kemahuan atau keperluan.
• Mengikut pendekatan ini,manusia sentiasa aktif dan bukan menunggu untuk dirancang oleh orang lain.
ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.

PEMIKIRAN PENDAHULU
1. Para pemikir bidang filsafat
• Pemikiran para filsuf masa Yunani kuno kelompok orientasi biologis yang berusaha menjelaskan aktivitas manusia dalam bentuk reaksi mekanistis dari proses-proses biologis, misalnya Hippocrates.
• pandangan John Locke yang menekankan pada lingkungan sebagai penentu perilaku manusia, jiwa dianggap pasif.
• pandangan empirisme dan asosiasionisme sangat mewarnai behaviorisme. Adaptasi manusia terhadap lingkungan dilakukan melalui proses belajar yang berusaha dijelaskan secara empirik dan menggunakan proses asosiasi.
2. Bidang reflexologi
• Riset-riset di bidang reflexologi di Rusia, adalah pengaruh yang relatif dekat pada behaviorisme dibanding pandangan-pandangan di atas. Reflexologi bertujuan menggali dasar fisiologis dari proses-proses behavioral. Mereka melakukan ini bukan dlm konteks pengembangan ilmu psikologi, karena para ahli ini sebenarnya adalah ahli fisiologis. Jadi aspek psikologis sudah dengan sendirinya tercakup dalam riset fisiologis mereka.
• Tokoh penting reflexologi Rusia : Ivan Petrovich Pavlov. Seorang yang berlatar pendidikan fisiologi hewan dari Universitas St. Petersburg (lulus 1875), juga memiliki latar belakang kedokteran. Pernah menempuh pendidikan di Jerman dan memperoleh gelar profesor di bidang farmakologi dan fisiologis. Riset-risetnya tentang proses fisiologis dalam sistem pencernaan mengantarkannya memperoleh Hadiah Nobel pada tahun 1904. Pavlov sendiri selalu menolak disebut sbg. psikolog dan lebih suka dikenal sebagai seorang ahli fisiologis karena menurutnya bidang psikologi adalah bidang yang terlalu abstrak dan spekulatif dibandingkan dengan fisiologis yang lebih empirik. Ia bahkan selalu merasa skeptik dgn psikologi
• Dalam bidang psikologi, Pavlov dikenal karena penemuannya dalam proses kondisioning. Penemuan ini diperoleh melalui riset dengan anjingnya, secara tidak direncanakan. Bahkan di awalnya Pavlov agak ragu untuk meneruskannya karena arahnya dianggap terlalu ‘psikologis’ dan berarti abstrak. Namun ia memtuskan utk meneruskannya karena karakteristik percobaan ini lebih bersifat fisiologis.
• Teori utama Pavlov:
a. respon-respon yang terjadi dalam proses kondisioning :
tahap 1: makanan ------------------------------------------------ air liur
UCS UCR (natural)
tahap 2: pasangkan makanan dengan stimulus lain (bel, piring)
tahap 3: bel --------------------------------------------------------- air liur
CS CR (learned)
b. perluasan dari respon-respon kondisioning yang dasar
o Delayed CR
o Extinguished/extinction and spontaneous recovery
o Generalization/irradation-discrimination
o Experimental neurosis
c. memperkenalkan konsep reinforcement.
3. Teori assosiasionisme modern
• Tokoh utama : Edward Lee Thorndike (1874-1949).
• Ia membaca buku James (Principles of Psychology) sebagai mahasiswa psikologi tahun pertama di Wesleylan University dan belajar pada James sendiri di Harvard dalam bidang animal learning. Eksperimen-eksperimen Thorndike dengan binatang sangat didukung James selama ia di Harvard. Kemudian ia datang ke Columbia atas undangan James Mc. Keen Cattell dan melanjutkan eksperimennya. Setelah meraih gelar Ph.D, ia tertarik di bidang sosial dan pendidikan, lalu mengajar di Teachers’ College, Columbia University, hingga masa pensiunnya di 1949.
• Thorndike mengembangkan teori asosiasionisme yang sangat sistematis, dan salah satu teori belajar yang paling sistematis. Ia membawa ide-ide asosiasi para filsuf ke dalam level yang empiris dengan melakukn eksperimen terhadap ide-ide filosofis tersebut. Thorndike juga mengakui pentingnya konsep reinforcement dan reward serta menuliskan teorinya tentang ini dalam ‘law of effect’ tahun 1898 (bandingkan dengan Pavlov yang baru menuliskan idenya tentang reinforcement pada 1902).
Pandangan Thorndike:
• Definisi Psikologi :…the study of stimulus-response connections or bonds… Thorndike sangat mementingkan connections. Connections dapat terbentuk secara sambung menyambung dalam urutan yang panjang. Sebuah connections yang tadinya response bisa menjadi stimulus. Di sinilah tampak peran asosiasi yang membentuk connections.
• Teori utama Thorndike :
a. Fenomena belajar :
o Trial and error learning
o Transfer of learning
b. Hukum-hukum belajar :
• Law of Readiness : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu, misalnya kesiapan belajar membaca. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis
• Law of Exercise : jumlah exercise (yang dapat berupa penggunaan atau praktek) dapat memperkuat ikatan S-R. Contoh : mengulang, menghafal, dan lain sebagainya. Belakangan teori ini dilengkapi dengan adanya unsur effect belajar sehingga hanya pengulangan semata tidak lagi berpengaruh.
• Law of Effect : menguat atau melemahnya sebuah connection dapat dipengaruhi oleh konsekuensi dari connection tersebut. Konsekuensi positif akan menguatkan connection, sementara konsekuensi negatif akan melemahkannya. Belakangan teori ini disempurnakan dengan menambahkan bahwa konsekuensi negatif tidak selalu melemahkan connections. Pemikiran Thorndike tentang. Konsekuensi ini menjadi sumbangan penting bagi aliran behaviorisme karena ia memperkenalkan konsep reinforcement. Kelak konsep ini menjadi dasar teori para tokoh behaviorisme seperti Watson, Skinner, dan lain-lain.
4. Fungsionalisme
Menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.

PRINSIP DASAR BEHAVIORISME
• Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
• Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
• Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
• Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
• Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
• Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

TOKOH-TOKOH
• Watson
• Hull
• Skinner
• Bandura
Watson
1. John Watson (1878-1958)
• Setelah memperoleh gelar master dalam bidang bahasa (Latin dan Yunani), matematika, dan filsafat di tahun 1900, ia menempuh pendidikan di University of Chicago. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih ke psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan. Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya. Tahun 1908 ia pindah ke John Hopkins University dan menjadi direktur lab psi di sana. Pada tahun 1912 ia menulis karya utamanya yang dikenal sebagai ‘behaviorist’s manifesto’, yaitu “Psychology as the Behaviorists Views it”.
• Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:
o Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science. Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya
o Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science. Salah satu halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psi.
o Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.
• Pandangan utama Watson:
1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dgn stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned
2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.
3. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.]
4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
5. Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
6. Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
7. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
8. Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
9. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adlaah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.
Hull
2. Clark L. Hull (1884-1952)
• Hull menamatkan Ph.D dalam bidang psikologi dari University of Wisconsin dan mengajar di sana selama 10 tahun, kemudian mendapat gelar professor dari Yale dan menetap di uni ini hingga masa pensiunnya. Sepanjang karirnya, Hull mengembangkan ide di berbagai bidang psikologi, terutama psikologi belajar, hipnotis, teknik sugesti. Metode yang paling sering digunakan adalah eksperimental lab.
• Prinsip-prinsip utama teorinya :
o Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
o Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsure O (organisma)). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output. Karena pandangan ini Hull dikritik karena bukan behaviorisme sejati.
o Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organisma.
• Hypothetico-deductive theory
Adalah teori belajar yang dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena individual (induktif). Teori ini terdiri dari beberapa postulat yang menjelaskan pemikirannya tentang aktivitas otak, reinforcement, habit, reaksi potensial, dan lain sebagainya (Lundin, 1991, pp.193-195).
• Sumbangan utama Hull adalah pada ketajaman teorinya yang detil, ditunjang dengan hasil-hasil eksperimen yang cermat dan ekstensif. Akibatnya ide Hull banyak dirujuk oleh para ahli behavioristik lainnya dan dikembangkan.
• Kritik yang diberikan pada Hull:
o Teorinya dianggap terlalu kompleks dan sulit dimengerti
o Idenya tentang proses internal dianggap abstrak dan sulit dibuktikan melalui eksperimen empiris
o Partikularistic, usaha utk menggeneralisasi hasil eksperimen secara berlebihan.
Skinner
3. B.F. Skinner
• Prinsip-prinsip utama pandangan Skinner:
o Descriptive behaviorism, pendekatan eksperimental yang sistematis pada perilaku yang spesifik untuk mendapatkan hubungan S-R. Pendekatannya induktif. Dalam hal ini pengaruh Watson jelas terlihat
o Empty organism, menolak adanya proses internal pada individu.
o Menolak menggunakan metode statistical, mendasarkan pengetahuannya pada subyek tunggal atau subyek yang sedikit namun dengan manipulasi eksperimental yang terkontrol dan sistematis.
• Konsep-konsep utama:
1. Proses operant conditioning:
o Memilah perilaku menjadi respondent behavior dan operant behavior. Respondent terjadi pada kondisioning klasik, dimana reinforcement mendahului UCR/CR. Dalam kondisi sehari-hari yang lebih sering terjadi adalah operant behavior dimana reinforcement terjadi setelah response.
o Positive dan negative reinforcers [kehadirannya PR menguatkan perilaku yang muncul, sedangkan justru ketidakhadiran NR yang akan menguatkan perilaku].
o Extinction: hilangnya perilaku akibat dari dihilangkannya reinforcers
o Schedules of reinforcement, berbagai variasi dalam penjadwalan pemberian reinforcement dapat meningkatkan perilaku namun dalam kadar peningkatan dan intensitas yang berbeda-beda (lih Lundin, 1991 fig. 4.p.213)
o Discrimination : organisma dapat diajarkan untuk berespon hanya pada suatu stimulus dan tidak pada stimulus lainnya. Caranya adalah secara konsisten memberi reinforcement hanya pada respon bagi stimulus yang diinginkan dan tidak pada respon terhadap stimulus lainnya.
o Secondary reinforcement, adalah stimulus yang sudah melalui proses pemasangan/kondisioning dengan reinforcer asli sehingga akhirnya bisa mendapatkan efek reinforcement sendiri. Dalam kenyataan riil kehidupan manusia, hampir semua yang kita anggap sebagai reinforcement adalah secondary reinforcer.
o Aversive conditioning, proses kondisioning dengan melibatkan suasana tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan punishment. Reaksi organisme adalah escape atau avoidance.
2. Behavior Modification
Adalah penerapan dari teori Skinner, sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction. Pendektan ini banyak diterapkan untuk mengatasi gangguan perilaku.
• Kritik terhadap Skinner:
o Pendekatannya yg lebih bersifat deskriptif dan kurang analitis dianggap kurang valid sebagai sebuah teori
o Validitas dari kesimpulan yang diambilnya yang merupakan generalisasi berlebihan dari satu konteks perilaku kepada hampir seluruh perilaku umum
o Pandangan ‘empty organism’ mengundang kritik dari pendukung aspek biologis dan psikologi kognitif yang percaya pada kondisi internal mansuia, entah itu berupa proses biologis atau proses mental
• Sumbangan Skinner:
o Salah seorang psikolog yang pandangannya paling berpengaruh dan banyak dirujuk oleh para psikolog lainnya
o Mengembangkan sejumlah prinsip-prinsip psikologis yang cukup terbukti aplikatif terhadap masalah-masalah perilaku yang nyata karena didukung oleh hasil-hasil eksperimen yang jelas
o Memberikan ide kreatif dan baru bagi metode dalam belajar dan terapi yang konvensional
Bandura
4. Albert Bandura (1925 - ..)
• Bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan kemudian mengajar di Stanford Uni.
• Sebagai seorang behaviorist, Bandura menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon lingkungan. Oleh karenya teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling.
• Prinsipnya adalah perilaku merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan lingkungan. Singkatnya, Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah proses belajar.
• Teori utama :
o Observational learning atau modeling adalah faktor penting dalam proses belajar manusia.
o Dalam proses modeling, konsep reinforcement yang dikenal adlaah vicarious reinforcement, reinforcement yang terjadi pada orang lain dapat memperkuat perilaku individu. Self-reinforcement, individu dapat memperoleh reinforcement dari dalam dirinya sendiri, tanpa selalu harus ada orang dari luar yang memberinya reinforcement.
o Menekankan pada self-regulatory learning process, seperti self-judgement, self-control, dan lain sebagainya.
o Memperkenalkan konsep penundaan self-reinforcement demi kepuasan yang lebih tinggi di masa depan
• Sumbangan Bandura:
Bandura membuka perspektif baru dalam aliran behavioristik dengan menekankan pada aspek observasi dan proses internal individu. Bagi mereka yang beraliran kognitif, pandangan Bandura ini dirasakan lebih lengkap dibandingkan pandangan ahli behavioristik lainnya.
Teorinya ini juga didukung oleh percobaan eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan
• Kritik terhadap Bandura
Kritik terutama datang dari kelompok aliran behavioristik keras, yang memandang Bandura lebih tepat untuk dimasukan dalam kelompok aliran kognitif dan tidak diakui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan Bandura yang kental aspek mentalnya.
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Aliran psikologi behaviorisme dicirikan dengan pengkajian mendalam tentang stimulus dan respond. Psikolog yang terkait didalamnya antara lain, Ivan Pavlov, I.B. Watson, Skinner, dan E.L. Thorndike.
Berdasarkan penelitian Pavlov di Rusia terhadap seekor anjing, lahirlah sebuah teori yang terkenal yakni : classical conditioning. Teori tersebut menyatakan bahwa setiap organisme, perilakunya terjadi secara refleks, dan dibatasi oleh rangsangan sederhana dan bersifat mekanis. Teori ini menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi melalui bentuk hubungan antara peristiwa dalam lingkungan dengan individu pada saat proses belajar berlangsung. Secara psikologis, peristiwa yang terjadi dalam lingkungan itu disebut sebagai stimulus (S), sedangkan perilaku yang terkena stimulus, disebut respon (R).

Selain di Rusia, aliran behaviorisme juga ada di Amerika Serikat. Ilmuan yang bertanggungjawab memperkenalkannya adalah J.B. Watson. Beliau terkenal dengan ucapannya : “berikanlah kepada saya 10 orang anak (bayi), maka akan saya jadikan ke-10 anak itu sesuai kehendak saya”. Artinya, Watson meyakini bahwa dengan memberikan proses kondisioner tertentu dalam proses pendidikan, ia dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu.
Sementara itu, penelitian Pavlov juga telah merangsang peneliti Amerika Serikat yang lainnya, bernama E.L. Thorndike. Hasil penelitian yang menggunakan kucing, melahirlah teori law of effect atau dijuluki S-R bond theory. Thorndike menyatakan bahwa respon akan diperkuat jika diikuti oleh kesenangan, dan dilemahkan jika diikuti oleh ketidaksenangan. Prinsip yang hadir adalah reinforcement (penguatan). Jika sesuatu tindakan yang didikuti suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perbuatan itu diulangi, dan akan meningkat. Latihan dan pengulangan dilakukan untuk mencapai kemahiran, seperti pada slogan practice make perfect. Makna yang terkandung adalah, semakin kuat stimulus, maka semakin kuat respon.
Teori law of effect Thorndike, kemudian diperluas oleh Skinner yang dikenal sebagai seorang behaviorisme radikal. Teori yang dihasilkan adalah operant conditioning. Teori tersebut membahas tentang penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku. Prinsip reinforcement menjadi fokusnya. Beliau meyakini bahwa, perkembangan kepribadian seseorang, atau perilaku yang terjadi adalah akibat dari respon terhadap kejadian eksternal. Artinya, kita menjadi seperti apa yang diinginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita inginkan itu. Bagi Skinner, hal yang utama dalam membentuk kepribadian seseorang adalah dengan memberikan : reward dan punishment.
Behaviorisme classic dan new behaviorisme yang disebut sebagai masih satu aliran, yakni aliran behaviorisme, telah membawa kemajuan sekaligus keberatan-keberatan. Behaviorisme telah berperan besar dalam mengasilkan sebuah psikologi hewan. Pada manusia, behaviorisme memiliki sumbangsih bagaimana mendidik anak atau merubah perilaku. Sedangkan keberatan yang diutarakan adalah, behaviorisme terlalu mekanis yang diibaratkan sebagai sebuah mesin reksi. Namun demikian, behaviorisme telah mengawali sebuah psikologi yang mandiri, berdiri sebagai sebuah ilmu

Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
• Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
• Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
• Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
ALIRAN PSIKOLOGI HUMANISTIK
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga “ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.
Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.
Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik. Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa
Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih berdasarkan pada metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata (Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu yang salah kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang psikologi.
Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya tidak mungkin dapat memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sehingga dianggap bukan sebagai suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).
Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien.
Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.
Teori Gestalt

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

Teori Belajar Gestalt
Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan yaitu sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian –bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Contohnya kalau kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejahuan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru , melainkan teman kita itu secara keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu misalnya baju yang baru.
Selanjutnya Wertheimer, seorang yang di pandang pendiri aliran ini mengemukakan eksperimennya mengenai “Scheinbewegung“ (gerak semu) memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga di pandang berlaku ( kesimpulan serta prinsip-prinsipnya ) di bidang lain, seperti misalnya di bidang belajar.
Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt
Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.
Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuan dari prilaku manusia. Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memadai atau tidaknya pemahamanya akan situasi.
Hukum-Hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.
1. Hukum Pragnaz
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.
Medan pengamatan, jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
2. Hukum-hukum tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukum, yaitu :
1. Hukum keterdekatan
2. Hukum ketertutupan
3. Hukum kesamaan
Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu tergantung
a. Kesangupan
Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.
b. Pengalaman
Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insght.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.
Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.
d. Latihan
Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insight, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih .
e. Trial and eror
Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.
Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :
1. Insight termasuk pada kemampuan dasar
Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.
3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental
4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba
5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi
6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru

Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:
1. Kedekatan posisi (proximity)
2. Kesamaan bentuk (similiarity)
3. Penutupan bentuk (closure)
4. Kesinambungan pola (continuity)
5. Kesamaan arah gerak (common fate)
Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.
Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia.

Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.

Dibawah ini akan diuraikan beberapa teori proses belajar.

1. Teori Stimulus dan Transformasi

Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok besar, yakni stimulus-respons yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang telah memperhitungkan faktor internal.

Teori stimulus-respons yang berpangkal pada psikologi asosiasi dirintis oleh John Locke dan Heart. Didalam teori ini apa yang terjadi pada diri subjek belajar merupakan rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam (black box).

Belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menghubungkan tanggapan-tanggapan dengan mengulang-ulang. Tanggapan-tanggapan tersebut diperoleh melalui pemberian stimulus atau rangsangan-rangsangan. Makin banyak dan sering diberikan stimulus maka makin memperkaya tanggapan pada subjek belajar. Teori ini tidak memperhitungkan faktor internal yang terjadi pada subjek belajar.

Kelompok teori proses belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor internal, antar lain :

a. Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang dirumuskan oleh Neiser, yang mengatakan bahwa proses belajar adalah transformasi dari masukan (input) kemudian input tersebut direduksi, diuraikan, disimpan, ditemukan kembali dan dimanfaatkan.

Transformasi dari input sensoris bersifat aktif melalui proses seleksi untuk dimasukkan ke dalam ingatan (memory). Meskipun teori ini dikembangkan berdasarkan psikologi kognitif tetapi tidak membatasi penelaahannya pada domain pengetahuan (kognitif) saja tetapi juga meliputi domain yang lain (afektif dan psikomotor).

Para ahli psikologi kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan internal dalam mengembangkan teorinya. Mereka berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal dimana setiap proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain metode pengajaran. Proses ini dapat digambarkan pada diagram (lihat gambar).

b. Teori Gestalt mendasarkan pada teori belajar pada psikologi Gestalt yang beranggapan bahwa setiap fenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial yang melebihi jumlah unsur-unsurnya.

Bahwa keseluruhan itu lebih daripada bagian-bagiannya. Didalam peristiwa belajar, keseluruhan situasi belajar itu amat penting karena belajar merupakan interaksi antara subjek belajar dengan lingkungannya. Selanjutnya para ahli psikologi Gestalt tersebut menyimpulkan, seseorang dikatakan belajar bila ia memperoleh pemahaman (insight) dalam situasi problematis.

Pemahaman itu ditandai dengan adanya a) suatu perubahan yang tiba-tiba dari keadaan yang tak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai atau memecahkan masalah (problem) b) adanya retensi c) adanya peristiwa transfer. Pemahaman yang diperoleh dari situasi, dibawa dan dimanfaatkan atau ditransfer ke dalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur yang sama atau hampir sama secara keseluruhannya (bukan detailnya).

2. Teori-Teori Belajar Sosial (Social Learning)

Untuk melangsung kehidupan, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam belajar, yaitu belajar secara fisik, misalnya menari, olah raga, mengendarai mobil, dan sebagainya, dan belajar psikis.

Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial (social learning) dimana seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam konteks sosial. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran orang lain atau peran sosial yang telah dipelajari.

Cara yang sangat penting dalam belajar sosial menurut teori stimulus-respons adalah tingkah laku tiruan (imitation). Teori dengan tingkah laku tiruan yang penting disajikan disini adalah teori dari Millers, NE dan Dollard, serta teori Bandura A. dan Walter RH.

2.1 Teori Belajar Sosial dan Tiruan Dari Millers dan Dollard

Pandangan Millers dan Dollard bertitik tolak pada teori Hull yang kemudian dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu merupakan hasil belajar. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar.

Prinsip belajar itu terdiri dari 4, yakni dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (respons), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling mengait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi respons, respons menjadi ganjaran, dan seterusnya.

Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme (manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus yang cukup kuat pada umumnya bersifat biologis seperti lapar, haus, seks, kejenuhan, dan sebagainya. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut Miller dan Dollard semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-dorongan primer ini.

Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respons akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif. Didalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsung ditujukan orang tertentu maupun yang tidak, misalnya anggukan kepala merupakan isyarat untuk setuju, uluran tangan merupakan isyarat untuk berjabat tangan.

Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa manusia mempunyai hirarki bawaan tingkah laku. Pada saat manusia dihadapkan untuk pertama kali kepada suatu rangsangan tertentu maka respons (tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hirarki bawaan tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman maka tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi hirarki resultan (resultant hierarchy of respons).

Disinilah pentingnya belajar dengan coba-coba dan ralat (trial and error learning). Dalam tingkah laku sosial, belajar coba-ralat dikurangi dengan belajar tiruan dimana seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk dapat memberikan respons yang tepat. Sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk belajar dengan coba-ralat.

Ganjaran adalah rangsang yang menetapkan apakah tingkah laku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard ada 2 reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan-dorongan primer dan ganjaran sekunder yang memenuhi dorongan-dorongan sekunder.

Lebih lanjut mereka membedakan 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan, yakni :

a. Tingkah Laku Sama

Tingkah laku ini terjadi pada 2 orang yang bertingkah laku balas (respons) sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama. Contoh 2 orang yang berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama. Tingkah laku yang sama ini tidak selalu hasil tiruan maka tidak dibahas lebih lanjut oleh pembuat teori.

b. Tingkah laku Tergantung (Matched Dependent Behavior)

Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara 2 pihak dimana salah satu pihak mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua, dan sebagainya) dari pihak yang lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak yang lebih.

Misalnya kakak adik yang sedang bermain menunggu ibunya pulang dari pasar. Biasanya ibu mereka membawa coklat. Terdengar ibunya pulang, kakak segera menjemput ibunya kemudian diikuti oleh adiknya. Ternyata mereka mendapatkan coklat (ganjaran). Adiknya yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya, dilain waktu meskipun kakaknya tidak ada, ia akan lari menjemput ibunya yang baru pulang dari pasar.

c. Tingkah Laku Salinan (Copying Behavior)

Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, peniru bertingkah laku atas dasar isyarat yang berupa tingkah laku pula yang diberikan oleh model. Demikian juga dalam tingkah laku salinan ini, pengaruh ganjaran dan hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.

Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laku tergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa yang lalu maupun yang akan dilakukan di waktu mendatang.

Hal ini berarti perkiraan tentang tingkah laku model dalam kurun waktu yang relatif panjang ini akan dijadikan patokan oleh di peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri dimasa yang akan datang sehingga lebih mendekati tingkah laku model.

3. Teori Belajar Sosial dari Bandura dan Walter

Teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura dan Walter ini disebut teori proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat (reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (respons) tetapi dalam proses belajar sosial, hal ini tidak terlalu penting.

Aplikasi teori ini adalah apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam khayalan atau imajinasi orang tersebut, terjadi rangkaian simbol-simbol yang menggambarkan rangsang dari tingkah laku tersebut. Rangkaian simbol-simbol ini merupakan pengganti dari hubungan rangsang balas yang nyata dan melalui asosiasi, si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.

Terlepas dari ada atau tidak adanya rangsang, proses asosiasi tersembunyi ini sangat dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain dari itu, dalam proses ini tidak ada cara-coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah laku nyata karena semuanya berlangsung secara tersembunyi dalam diri individu.

Hal yang penting disini adalah pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru. Menurut Bandura, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam, yakni :

a. Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah-tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.

b. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition) dimana tingkah-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.

c. Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.

Akhirnya bandura dan Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini dapat pula menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama dengan emosi yang ada pada model. Contohnya seseorang yag mendengar atau melihat gambar tentang kecelakaan yang mengerikan maka ia berdesis, menyeringai bahkan sampai menangis ikut merasakan penderitaan tersebut.















BAB III
PENUTUP
3.1. SIMPULAN
Walaupun psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang manusia, tetapi ada 4 pendekatan yang paling dominan yaitu psikoanalitik, behaviorisme, eksistensial-humanistik dan gestalt. Setiap pendekatan ini memandang manusia dengan cara berlainan.




















DAFTAR PUSTAKA
Rahmat, jalaludin. 2007. Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
www.goole.com